BUNG KARNO MEMBERI CONTOH KEBERSIHAN DENGAN MENYAPU
Setelah proklamasi 17 Agustus 1945,
tentara Belanda makin mengancam keamanan Bung Karno dan keluarga. Dari kediaman
di Jl. Pegangsaan Timur 56, Jakarta, BK beserta keluarganya diungsikan ke rumah
keluarga Mualif Nasution, Sofyan Tanjung, dan ke rumah kawan-kawan dekat BK di
Jakarta.
Pada 30 Desember 1945, setiap hari
menjelang gelap, di sekitar tempat tinggal Bung Karno, Bung Hatta, dan Bung
Sjahrir terdengar tembakan-tembakan hampir semalam suntuk. Tentara Belanda
setiap malam bahkan siang hari pun melakukan teror.
Tanggal 3 Januari 1946, sekitar pukul 18.00, Bung Karno, Bung Hatta, beserta
rombongan meninggalkan Jakarta menuju Yogyakarta. Rombongan naik kereta api
luar biasa (KLB). Ikut diangkut kereta itu, dua buah mobil kepresidenan Buick 7
seat bercat hitam dan de Soto bercat kuning.
Sebelum BK dan rombongan naik KLB,
beberapa kali KLB pura-pura langsir di rel kereta belakang rumah BK, untuk
mengelabuhi tentara Belanda. Lampu-lampu dalam KLB sengaja tidak dinyalakan.
Setelah semua rombongan naik, dengan aksi langsir KLB bergerak perlahan-lahan
meninggalkan Kota Proklamasi. Sampai di Stasiun Manggarai, KLB berhenti.
Tentara Belanda yang terdiri atas orang Indonesia melihat-lihat gerbong depan KLB
ini. Karena gelap gulita, mereka tidak memperhatikan gerbong belakang dan
mengira semua gerbong kosong. Selanjutnya, KLB bergerak lagi meninggalkan
Manggarai.
Tiba di Stasiun Jatinegara suasana
lebih ngeri lagi. Tentara Belanda yang baru saja diserang TKR memperhatikan
KLB. Beruntung mereka tidak masuk ke dalam gerbong, karena situasinya gelap.
Berhenti sebentar kemudian KLB bergerak menuju Yogyakarta.
Rombongan presiden tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta pada 4 Januari 1946 pagi.
Usai upacara penerimaan di Stasiun Tugu, rombongan menuju Pura Pakualaman,
istana Sri Paku Alam. Setelah istana siap, Bung Karno dan keluarga meninggalkan
Pakualaman dan pindah ke bekas rumah gubernur Belanda di Jalan Malioboro,
persis di depan Benteng Vredeburg. Bung Karno sempat berpidato di RRI
Yogyakarta untuk mengumumkan ke seluruh dunia bahwa Pemerintah RI sejak saat
itu dipindahkan ke Yogyakarta.
Memegang cacing sawah
Ada saja kesibukan Bung Karno
selama mengungsi di Yogyakarta. Selain menghadiri sidang kabinet, rapat di daerah,
juga memberikan petunjuk dan semangat kepada rakyat daerah dengan mengadakan
rapat raksasa. Terutama petunjuk dan semangat berjuang untuk mempertahankan
Negara Kesatuan RI. Juga memberikan kursus politik kepada para wanita di Istana
Presiden di Yogyakarta hampir setiap bulan sekali.
Di bagian belakang Istana
Yogyakarta, terdapat ruangan lebar dan panjang. Di sini BK selalu menggembleng
wanita-wanita Indonesia, memberikan kursus politik kepada para wanita, remaja
putri, mahasiswi, dan pelajar putri Indonesia di Yogyakarta. Selain BK,
beberapa pemimpin lainnya, antara lain Dr. AK Gani, ikut memberikan ceramah dan
pidato.
Setiap kali BK selesai memberi pelajaran, bahannya selalu ditulis dan kemudian
dibundel jadi satu. Maka jadilah buku berjudul Sarinah. Sarinah adalah
nama wanita pengasuh Bung Karno waktu kecil. Lewat buku itu, nama Sarinah
menjadi terkenal di seluruh Tanah Air, bahkan sampai ke luar negeri.
Untuk menjaga kesehatannya, BK
berolahraga di halaman istana. Halaman ini juga digunakan untuk latihan
berbaris Polisi Pengawal Pribadi Presiden, dan ia berlari-lari memutari mereka.
Sementara itu Ibu Fatmawati gemar bermain bola keranjang bersama-sama pengawal.
BK juga sempat merancang kolam cantik di halaman dalam Istana Presiden di
Yogyakarta.
Selama tinggal di Yogyakarta, BK
dan Ibu Fatmawati kadang-kadang jalan-jalan sore keluar masuk desa dan sawah.
Dari Istana Yogyakarta mereka naik mobil. Sesampai di desa atau sawah, mobil
diparkir di pinggir jalan dan ditunggu oleh Pak Arif, sopir pribadi BK. Saat
berjalan kaki masuk keluar kampung dan meninjau persawahan, BK dan Ibu
Fatmawati dikawal seorang anggota Polisi Pengawal Pribadi Presiden.
Ketika sedang berjalan kaki dan
melihat ada cacing merayap di tengah jalan, BK memerintahkan pengawalnya untuk
memasukkan cacing itu ke sawah. Ada anggota polisi pengawal merasa jijik
memegang cacing, dengan cepat BK memegang cacing kepanasan itu dan
memasukkannya ke sawah.
Ia juga bercakap-cakap dengan
rakyat jelata yang dijumpainya di desa, di kampung maupun di tengah sawah,
sambil duduk santai. Rakyat yang dia ajak ngobrol kelihatan gembira sekali.
Keluar dari istana secara incognito
(tidak resmi) sering dilakukan. Suatu hari BK berkata pada Mangil (Letnan
Kolonel Polisi Mangil Martowidjojo, Komandan Detasemen Kawal Pribadi Presiden),
"Yo, Mangil. Bapak ingin keluar sebentar. Bapak ingin melihat umpyeke
wong golek pangan di Jakarta (Bapak ingin melihat kesibukan orang mencari
nafkah di Jakarta)."
Kadang-kadang BK pergi ke pantai
Layar Berkembang dan makan sate bersama putra-putrinya. Malam hari BK pernah ke
daerah Senen, daerah planet (kawasan pelacuran) tempo dulu dan BK jalan
mendekati gerbong kereta api yang ditempati orang-orang yang tidak punya tempat
tinggal. Ia bercakap-cakap dengan para gelandangan itu. Ada seorang perempuan
yang berkata keras, "Lo, itu 'kan suara Bapak! Itu Bapak, ya?" Karuan
saja, sekitar tempat itu penuh dengan orang mengelilingi Bung Karno.
Suka sayur lodeh dan ikan asin
Kebiasaan makan Bung Karno
sederhana sekali. Kalau makan di istana, hanya dengan tangan, tidak pakai
sendok dan garpu. Ini kebiasaannya sejak dulu, terutama kalau makan bersama
keluarga. Nasinya hanya satu mangkok kecil. Yang paling digemari sayur lodeh,
sayur asam, dan telur mata sapi. Juga ikan asin goreng dan sambal. Sambalnya
tidak dipindah dari cowek atau ditaruh di piring kecil. Tapi harus tetap
di cowek (cobek). Benar-benar menu rakyat biasa. Ia juga suka kopi
tubruk, sayur daun singkong, sawo, dan pisang.
Kalau pagi suka minum kopi tubruk.
Resepnya, satu cangkir diisi dengan satu sendok kopi dan satu setengah sendok
gula. Sarapannya tempe goreng atau roti bakar dan dua sendok teh madu tawon,
telur ayam mata sapi. Kalau sudah selesai makan, BK selalu merokok satu batang
rokok States Express ("555").
Suatu hari, selesai jalan-jalan di
Istana Merdeka Bung Karno mengajak Letnan Soetikno, pembantu ajudan presiden
dan Mangil ikut makan pagi. Menunya sederhana. BK makan satu mangkok kecil
nasi, sayur daun singkong, sambal, dan ikan asin goreng. Buahnya sawo dan
pisang. Ia makan pakai tangan, sedang Letnan Soetikno dan Mangil pakai sendok
dan garpu. Minumnya hanya teh. Sambalnya ditaruh di cobek, lengkap dengan munthu-nya.
Kalau minum manis, BK tidak mau
pakai gula, tapi sakarin. Ia juga suka makan sate ayam di Pantai Tanjungpriok
bersama putra-putrinya. Kalau pergi ke rumah makan, terutama RM Tungkong di
Menteng (sekarang namanya RM Cahaya Kota), BK senang mi goreng, nasi goreng,
ayam goreng, atau sate ayam.
Soal pakaian, BK paling teliti.
Kalau ada wartawan atau kawan berpakaian kurang rapi, atau dasi miring,
langsung dia betulkan. Ia sendiri kalau berpakaian sangat rapi.
Pakaian hariannya sederhana. Kalau
ada yang robek, diperintahkan menjahitnya kembali dan terus dipakai lagi.
Apalagi kalau pakaian sangat disenangi, sungguh pun sudah robek dan sudah
jahitan, tetap dipakai. Termasuk sandal, lebih senang memakai yang sudah lama,
hampir rusak. BK juga paling gemar dengan kursi rotan yang sudah lama dipakai.
Alasannya, kursi rotan lama akan mengikuti bentuk tubuh pemakainya. Jadi, lebih
enak diduduki.
Habis menempeleng, minta maaf
Seperti biasanya Bung Karno pergi
sore hari bersama Ibu Fatmawati dengan mobil. Mobil Bung Karno di garasi tidak
dapat distarter oleh Pak Arif, sopirnya. Begitu tutup mesinnya dibuka, ternyata
accu-nya tidak ada.
Accu mobil dipakai oleh ajudannya
tanpa memberi tahu terlebih dahulu kepada Pak Arif dan tanpa seizin Bung Karno.
BK pun marah. Anggota pengawal pribadi tak berani berkutik. Mereka malah
bersikap sempurna dengan berdiri tegap, juga tidak berani bergerak sedikit pun,
kecuali matanya yang kedap-kedip, sehingga BK tertawa melihatnya.
Pernah suatu hari di Jakarta, BK
marah sekali. Delapan orang pengawal dikumpulkan lalu ditempeleng satu per
satu. "Saya mohon Bapak sabar dulu ...," kata Mangil, salah satu
korban kemarahan. Belum sampai habis bicara, BK membentak Mangil,
"Diam!" Anggota pengawal yang baru saja menerima hadiah bogem mentah
itu saling melihat satu sama lain dan semua ketawa kecil.
Setelah kembali ke istana, Bung
Karno memanggil Mangil, dan berkata, "Mangil, kau mau tidak memaafkan
Bapak? Bapak meminta maaf kepada anah buahmu. Ternyata Bapak berbuat salah
kepada anak buahmu."
"Tidak apa-apa, Pak,"
jawab Mangil. Kemudian Bung Karno merangkul Mangil. Belakangan diketahui, BK
telah menerima laporan yang salah dari orang lain mengenai salah satu anak buah
Mangil.
Biasanya, kalau BK sedang marah,
tidak ada yang berani menghadap, kecuali Prihatin, salah seorang anggota Polisi
Pengawal Pribadi Presiden. Ketika makan bersama di Istana Tampaksiring di Bali,
BK berkata, "Kamu orang itu terlalu. Kalau saya sedang marah, selalu
Prihatin yang kau suruh menghadap. Dia sering saya semprot dan saya tahu dia
tidak salah. Saya merasa kasihan sama Prihatin. Besok kalau saya ke luar
negeri, Prihatin akan saya ajak. Lha mbok kalau saya sedang marah, yang
disuruh menghadap saya seorang wanita cantik dengan membawa map surat-surat
yang harus saya tanda tangani, 'kan saya tidak jadi marah. Jullie te erg.
Lagi-lagi Prihatin yang datang!" Betul saja, waktu BK pergi ke Kanada,
Prihatin diajak.
BK juga pernah marah sekali dan
berkata, "Godverdomme. Saya tidak akan berangkat kalau kacamata
Bapak tidak ada." Saat itu BK hendak membaca surat dalam perjalanan dari
istana ke lapangan terbang Kemayoran. Ternyata kacamatanya tertinggal di
istana.
Suatu pagi Bung Karno jalan kaki mengelilingi istana. Dari arah kamar ajudan
presiden, ia mendengar suara radio diputar keras. Ia bertanya kepada seorang
pengawalnya, "Siapa itu yang nyetel radio keras-keras?" Polisi
pengawal menjawab, bahwa radio itu ada di dalam kamar ajudan.
Sang presiden masuk ke ruang ajudan itu, dan berkata, "Kunnen jullie
niet leven zonder radio?" (Tidak dapatkah kalian hidup tanpa radio
[keras-keras]). Kebetulan yang ada di ruang itu Kapten Andi Jusuf, yang dijadikan
umpan oleh Gandhi dan Mangil.
Celana boneka menghiasi jas Jusuf Muda Dalam
Pernah ada kejadian langka, Bung
Karno harus menunggu seorang pengawalnya. Peristiwa itu berlangsung ketika BK
pergi ke rumah dokter gigi di Kota Baru, Yogyakarta, dengan sopir Pak Arif,
beserta ajudan Pramurahardjo dan dikawal Sudiyo.
Belum lama BK tiba di rumah dokter
itu, Sudiyo lapor kepada ajudan presiden, perutnya sakit. Atas keputusan
ajudan, Pak Arif diperintahkan mengantar Sudiyo pulang ke istana, dan membawa
seorang pengawal pribadi yang sedang bertugas, sebagai pengganti.
Sebelum mobil tadi kembali ke rumah
dokter, BK sudah pamit kepada tuan rumah, untuk segera kembali ke istana.
Setelah BK sampai di serambi depan, ajudannya gelisah. Ajudan pun melaporkan,
mobil belum datang karena dipakai mengantar Sudiyo yang sedang sakit perut,
pulang ke istana. Mendengar laporan itu, BK tidak marah, malah berkata,
"Baik, tidak apa-apa. Saya tunggu dulu di sini."
Setelah mobil dan pengawalnya
datang, Bung Karno pamit lagi kepada tuan rumah. Sampai di halaman istana,
beliau melihat Sudiyo yang tadi sakit perut telah berdiri tegap di serambi
istana, siap membuka pintu mobil BK. Bung Karno langsung bertanya kepada
Sudiyo, "Kamu tadi sakit perut?"
Sudiyo menjawab, "Ya, Pak."
Bung Karno selanjutnya menganjurkan
kepada Sudiyo, agar lain kali kalau hendak tugas supaya makan pagi dulu, jadi
tidak masuk angin. Sambil malu-malu Sudiyo kembali menjawab, "Ya,
Pak."
Dalam suatu perjalanan jauh, BK
pernah bertanya pada Pak Arif, "Rif, apa ini yang bunyi berisik?"
Pak Arif menjawab dengan tenang, "Mobilnya, Tuan."
Bung Karno kembali bertanya, "Kenapa tidak kau cari yang berisik itu dan kau betulkan?"
Pak Arif menjawab, "Dicari sih
sudah, Tuan. Tetapi belum ketemu. Orang namanya besi beradu dengan besi, tentu
saja berisik sekali, Tuan."
Mendapat jawaban dari Pak Arif, Bung Karno tidak lagi bertanya.
Pernah juga BK membatalkan
keberangkatan rombongan sewaktu akan meninggalkan Kabupaten Sumedang, Jawa
Barat. Karena BK mengetahui, semua pengawal belum mendapat sarapan pagi.
Padahal rombongan sudah siap berangkat. Bung Karno memerintahkan ajudan supaya
keberangkatannya ditunda sampai para pengawal selesai makan pagi.
Selanjutnya, BK memerintahkan
ajudannya supaya selalu memperhatikan semua sopir dan pengawal yang sedang
bertugas mengawalnya, jangan sampai mereka telantar makan dan minumnya.
Di Istana Merdeka Jakarta,
pertengahan 1950, Sudiyo gendut sedang bertugas mengambil sarapan roti dari
dapur untuk kawan-kawannya di paviliun. Ketika sedang komat-kamit menghitung
jumlah roti yang dibawanya, ia berpapasan dengan Bung Karno yang sedang jalan
pagi di halaman istana. Sudiyo memberi salam dengan santai, "Goede
morgen mijnheer," sambil terus berlalu. Ia mengira sedang berpapasan
dengan Ven Der Bijl, orang Belanda yang bertugas di istana.
Mendengar ucapan salam itu, Bung
Karno langsung berhenti. Beliau menoleh ke arah Sudiyo, dan bertanya kepada
pengawalnya, "Siapa dia?"
"Sudiyo gendut, Pak," jawab sang pengawal.
Bung Karno mengajak pengawalnya itu
membuntuti Sudiyo. Ketika Sudiyo sambil jongkok masih juga sibuk menghitung
jumlah roti yang dibawanya, BK berdiri di belakangnya sambil berkata,
"Kalau rotinya masih saja kurang, ambil lagi ...."
Tanpa menoleh Sudiyo malahan membentak dengan suara keras, "Ya, nanti saja wong masih dihitung
kok."
Bung Karno tertawa, tetapi pengawal
langsung menegur Sudiyo, rekannya itu, "He, lihat dulu, kamu sedang bicara
dengan siapa?"
Begitu menoleh, Sudiyo baru tahu
Bung Karno sudah berdiri di belakangnya. Dengan gemetaran Sudiyo langsung
berdiri dan dengan sikap sempurna, melapor, "Siap Pak, Sudiyo mohon
maaf." BK tersenyum dan meneruskan jalan pagi sambil mengontrol kebersihan
serta kerapian tanaman di halaman.
Di halaman Istana Yogyakarta yang
luas, tumbuh beberapa pohon buah-buahan, antara lain mangga, jambu, kedondong,
dan sawo. Kalau sedang panen buah-buahan, Ibu Fatmawati sering membagi-bagi
buah-buahan itu.
Pada suatu hari, Bung Karno
memergoki seorang anggota Polisi Pengawal Pribadi sedang berada di atas pohon
sawo. Anggota polisi itu tahu kalau BK mendekati pohon sawo dan mengira tidak
melihatnya. Saking ketakutannya, dia diam di atas pohon tanpa bergerak dengan
harapan tak diketahui BK. Bung Karno sengaja tak mau melihat ke atas pohon sawo
itu. Kepada polisi yang ada di dekatnya, ia berkata, "Itu buah sawonya kok
tambah?"
Anggota pengawal yang diajak bicara
kontan tertawa, pengawal yang ada di atas pohon pun ikut tertawa, tapi dengan
nada ketakutan. Lalu Bung Karno berkata lagi, "Bapak 'kan sudah bilang,
biar buahnya tua dan matang dulu. Nanti kamu orang juga dibagi. Kalau kamu
tidak sabar, pindahkan saja pohon sawo ini ke dekat asramamu itu ...."
Bung Karno kemudian meninggalkan
pohon sawo itu. Setelah BK tidak kelihatan lagi, polisi yang ada di atas pohon
baru berani turun. Kawan-kawannya pun mengejek, "Rasain lu."
Mulai saat itu, tidak ada lagi yang berani memanjat pohon buah-buahan.
Pernah dalam suatu resepsi di
Istana Merdeka, seorang pejabat tinggi membisiki Bung Karno, bahwa saputangan
kecil berwarna putih yang menghiasi saku jas Jusuf Muda Dalam agar diambil BK.
Itu bukan saputangan asli, tetapi palsu! Tentu saja BK ingin tahu dan terus
berusaha mendekati Jusuf Muda Dalam. Pak Jusuf sendiri tidak menaruh curiga
ketika didekati BK dengan tersenyum. Setelah dekat sekali, BK tiba-tiba
mengambil hiasan putih yang menyerupai setrip putih di atas saku jas Pak Jusuf.
Pak Jusuf terperanjat dan berusaha
mempertahankannya. Tetapi sudah terlambat karena benda itu sudah di tangan BK.
Ketika BK membuka kain putih itu, orang-orang tertawa terbahak-bahak. Mereka
melihat sebuah pakaian dalam perempuan, bersih, putih, dan masih baru. Tetapi
itu celana dalam untuk boneka kecil.
Ajudan disuruh tinggal di kandang kuda
Kalau sedang jalan pagi atau sore
hari di halaman istana, Bung Karno selalu memperhatikan keadaan sekitarnya.
Bagaimana kebersihannya, keadaan tanaman dan bunga, letak pot-pot bunga masih
teratur atau tidak.
Suatu pagi, seperti biasa BK
jalan-jalan di halaman istana, disertai Sugandhi ajudan presiden dan seorang
polisi pengawal pribadi. Melihat bata merah pembatas halaman rumput tidak
teratur, BK memerintahkan Sugandhi membetulkan letak bata merah itu. Lantas Pak
Gandhi ganti menyuruh pengawal pribadi membetulkannya. Langsung BK berkata,
"Ya sudah, kalau kamu tak mau, akan saya kerjakan sendiri."
Bung Karno kemudian membetulkan
letak bata merah itu. Dengan cepat Pak Gandhi dan pengawal pribadi ikut
membetulkannya.
Pernah Bung Karno menemukan puntung
rokok di sekitar pos penjagaan polisi pengawal pribadi yang tidak dibuang ke
dalam asbak. Ia lantas bertanya kepada anggota yang bertugas, "Siapa di
antara kamu yang suka merokok? Coba keluarkan, rokokmu merek apa?"
Setelah semua petugas jaga
mengeluarkan rokok, tidak ada yang cocok dengan puntung rokok yang dipegang BK.
Lalu, ia membuang puntung itu ke asbak di atas meja pos penjagaan dan
memerintahkan, agar semua tempat di istana selalu bersih. Jangan dikotori
puntung rokok.
Halaman istana banyak pohon besar
dan rindang. Tetapi jangan sekali-kali memotong dahan atau rantingnya, sebab
Bung Karno akan tahu. Semuanya diatur sendiri olehnya, termasuk tanaman-tanaman
kecil di halaman istana.
Di sekitar tempat penjagaan Polisi
Pengawal Pribadi Presiden, terdapat pohon besar. Dengan sendirinya, banyak daun
kering jatuh di bawahnya. Melihat itu BK langsung berhenti dan menyuruh seorang
polisi pengawal mencari sapu. Setelah sapu didapat, segera dia memerintahkan
membersihkan tempat itu. BK kemudian meneruskan jalan kaki, dan mengitari
halaman istana.
Sewaktu anggota polisi pengawal
pribadi itu sedang menyapu, datang tukang kebun sambil meminta sapu itu. Sapu
diserahkan oleh polisi pengawal kepada tukang kebun, dan secara kebetulan BK
melihat adegan serah terima sapu itu. Ia segera kembali ke pos penjagaan dan
meminta sapu dari tukang kebun sambil berkata kepada polisi pengawal tadi,
"Baik, kalau kamu tidak mau membikin bersih tempatmu sendiri, Bapak yang
akan membersihkannya."
Setelah Bung Karno selesai menyapu dan membersihkan tempat penjagaan, sapu dibanting sampai gagangnya patah.
Pernah juga BK pagi-pagi masuk di
sekitar paviliun di Istana Negara, tempat tinggal polisi pengawal pribadi. Di
sini BK melihat tempatnya kotor, kamar mandi dan selokan juga kotor. BK
memerintahkan seorang polisi pengawal pribadi mencari sapu dan mengumpulkan
semua penghuninya. Kemudian, ia berkata, "Lihat, kamu orang saya beri
contoh bagaimana caranya membikin bersih tempat kotor ini."
Bung Karno memegang sapu dan terus
menyapu serta membersihkan tempat itu. Orang-orang gemetar ketakutan ketika
melihat BK membersihkan tempat itu. Selesai menyapu BK berkata, "Bisa
tidak kamu membikin bersih tempatmu sendiri?"
Di Istana Bogor pun BK selalu
memeriksa kebersihan sekitar istana, termasuk tempat tinggal para pelayan. Juga
garasi dan kandang kuda. Ketika BK sedang memeriksa kebersihan di sekitar
istana, ia diikuti seorang polisi pengawal pribadi dan Kapten CPM Soedarto.
Sampai di kandang kuda, sang kapten berkata, "Wah, kandang kuda ini lebih
bagus dan lebih bersih dari rumahku."
Mendengar kata-kata itu, Bung Karno
langsung mendekati Kapten Soedarto dan berkata, "Kalau begitu, kamu
tinggal saja di sini." Semua yang mengikuti Bung Karno tertawa lebar.
Dalam mobil BK, selain tidak boleh
merokok, sopir tidak boleh ngobrol dengan ajudan serta pengawal pribadi. Tidak
boleh memakai minyak wangi yang baunya bikin pusing kepala. Minyak wangi yang
selalu dipakai BK bermerek Shalimar buatan Prancis.
Bung Karno terseret mobil
BK mempunyai kebiasaan
"aneh". Beliau selalu memukul-mukul kap atas pintu mobilnya yang akan
dinaiki. Bukan kenapa-kenapa. Sebab, kepala BK pernah terbentur pinggiran atas
pintu mobilnya. Mulai saat itu pula pengawal selalu diminta BK untuk
mengingatkan dengan kata-kata, "Awas pintu, Pak."
Mendengar kata-kata itu, BK selalu
menjawab, "Yooooo," sambil memukul kap atas pintu mobilnya terus
masuk dan duduk di dalam mobil.
Insiden kecil juga pernah terjadi
ketika BK menjemput tamu agung dari luar negeri di lapangan terbang Kemayoran
Jakarta, dengan mobil sedan terbuka. Waktu pintu mobil ditutup dengan keras
oleh Sugandhi, jari tangan BK terjepit pintu mobil hingga luka berdarah. Tentu
saja sakit sekali. Akan tetapi, untuk menjaga agar jangan sampai tamunya ikut
gelisah, BK tetap tertawa dan melambaikan tangannya kepada rakyat yang ikut
menjemput tamu itu.
Pernah juga Bung Karno terseret
pintu mobil di serambi Istana Merdeka. Mobil baru berhenti setelah polisi
pengawal BK berteriak keras, "Stop, stop!", gara-gara mobil buru-buru
dimajukan sopirnya. Sejak kejadian itu, sopir BK selalu harus turun dari mobil
ketika BK akan turun dari mobil, dan baru naik ke mobil setelah BK sudah naik.
Bung Karno tidak pernah lupa
membawa tongkat kebesaran. Salah satu tongkat komandonya merupakan hadiah dari
Presiden Filipina Quirino. Tongkat ini yang sering dia bawa ke mana-mana dalam
acara resmi di Jakarta maupun ke luar kota, ke daerah-daerah, bahkan ke luar
negeri. Belakangan orang bilang, tongkat BK mempunyai kekuatan gaib. Berita
burung itu sampai ke telinganya. Ia berkata, "Lo, ini 'kan cuma dibuat
dari kayu biasa, dan juga dibuat oleh manusia biasa yang doyan nasi
juga."
Di mejanya selalu terdapat tumpukan
koran atau buku bacaan kalau sedang duduk sendirian. Pagi-pagi surat-surat
kabar itu harus sudah ada di mejanya. Para anggota DKP (Detasemen Kawal
Pribadi) memeriksa, jumlah surat kabar jangan sampai kurang. Kalau ada yang
kurang, BK pasti akan menanyakan. Pagi maupun sore hari, ia selalu membaca
surat kabar. Bahkan ke kamar kecil pun selalu membaca surat kabar atau majalah.
Bung Karno juga mempunyai kebiasaan
khas. Kalau ia duduk di suatu tempat, tidak boleh ada angin dari belakang,
tidak boleh ada kipas angin yang dihidupkan di sekitarnya. Ia juga tidak suka
tidur di tempat tidur empuk mentul-mentul. Ia terbiasa tidur di tempat
tidur beralas papan dan kasur kapuk.
Pernah suatu hari Bung Karno
berkata kepada Mangil, "Mangil, kamu itu selalu dekat Bapak. Ibaratnya
kamu harus selalu memegang baju Bapak sebelah belakang. Maka dari itu, kamu
supaya selalu membawa sakarin dan korek api. Sungguh pun yang minta api itu
bukan saya, tetapi orang lain. Kamu memberikan api kepada orang yang akan
merokok, kamu dapat pahala." Sampai-sampai, Mangil selalu membawa korek
api, sekalipun ia tidak merokok.
Bung Karno menyukai rokok merek
States Express 555. Pernah dalam suatu perjalanan sehabis makan BK minta Rokok
"555", tetapi tidak ada yang punya. Ia berkata kepada rombongannya,
"Bapak ini merokok sehari hanya dua batang. Tiap-tiap habis makan satu
batang. Kok rokok saya satu kaleng yang isinya 50 batang bisa habis satu hari,
itu bagaimana?"
Sejak itu, setiap dalam perjalanan,
Mangil membawakan rokok Bung Karno supaya selalu utuh, tidak ada yang berani
minta rokok padanya, karena Mangil sendiri tidak merokok. Tetapi kalau keluar
istana, selain air putih juga Ovaltine yang selalu disediakan oleh Pembantu
Inspektur Polisi Sogol, salah seorang anggota DKP.
Setiap kali akan berpidato, Bung
Karno terlebih dahulu selalu minum air putih yang sudah dingin, bukan dikasih
air es, atau es atau air yang dimasukkan di dalam kulkas. Tetapi air putih yang
sudah dimasak dan dingin, tanpa es. Suatu ketika BK didaulat untuk memberikan
wejangan oleh rakyat setempat dalam suatu perjalanan ke daerah Aceh. Sebelum
berpidato, Bung Karno minta air minum. Rakyat berebut ingin memberikan air
minum. Bung Karno berkata, "Saya minta air minum, bukan air teh, bukan
kopi, juga bukan bir. Bapak hanya minta air putih yang sudah dimasak dan sudah
dingin tanpa diberi es."
BK senang sekali menonton
pergelaran wayang kulit di Istana Negara. Dalam suatu pertunjukan wayang, ia
kagum akan kepahlawanan dan kepatriotan Gatotkaca.
Pernah suatu pagi, seusai menonton
pertunjukan wayang kulit, BK bertanya kepada Sugandhi, ajudan Presiden,
"Ndi, lucu tidak banyolannya tadi malam?" Sugandhi menjawab,
"Lucu sanget, Pak (lucu sekali, Pak)." "Coba tirukan, apa
yang kau anggap lucu," kata BK lagi. Sugandhi tidak dapat menirukan dan
dengan terus terang menjawab, "Dalem mboten ningali, Pak (saya
tidak nonton, Pak)." Bung Karno hanya tertawa mendengar pengakuan jujur
itu.
Bung Karno juga senang menari lenso
dalam acara-acara khusus, baik di Istana Merdeka, Istana Negara, Istana Bogor,
atau Istana Cipanas. Untuk melayani BK santai, dibentuklah kelompok band ABS,
Asal Bapak Senang. Semua lagu kesenangan BK dipelajari dengan baik. BK merasa
cocok dengan adanya tim kesenian ini. Kalau BK sedang menari lenso dan iramanya
disenangi, tidak boleh diganti dengan lagu lain, sekalipun yang mendengarkan
mungkin sudah bosan.
Pernah pada suatu hari Bung Karno
dan Ibu Hartini mendapat undangan makan di tempat peristirahatan Duta Besar Amerika
Serikat Howard Jones di Puncak, Cipanas. Sehabis makan siang, Bung Karno
memanggil saya dan bertanya, "Anak-anak ada atau tidak?"
Bung Karno menari lenso dengan Ny. Jones, yang menyanyi semua anggota polisi
pengawal pribadi, sambil memukuli peralatan dapur seadanya untuk memberikan
suara dan irama lenso yang dikehendaki BK. Tanpa alat musik pun, tari lenso
berlangsung meriah. Selain BK, juga ikut menari Ibu Hartini, Duta Besar Howard
Jones dan nyonya, juga para anggota staf Kedutaan Besar AS. Seusai acara,
alat-alat dapur tadi pada penyok.
Tidak tegaan
Selain benci penjajahan dan
penindasan, Bung Karno juga tidak senang melihat burung dalam sangkar. Pada
suatu hari, BK mengadakan inspeksi mendadak ke asrama DKP, yang letaknya
berjejer dengan Istana Merdeka. BK segera memanggil pemilik burung serta
memerintahkan melepaskannya.
Kata Bung Karno, "Kasihan
burung itu, biarkan dia mencari makan di alam bebas. Kamu orang belum pernah
mengalami bagaimana susahnya orang ditahan, dipenjarakan tanpa ada kesalahan.
Maka, jangan ada pengawal saya memenjarakan burung dalam sangkar, sekalipun
sangkarnya dari emas."
BK sering berziarah, nyekar
ke makam ayahnya di Pemakaman Karet, Jakarta. Kadang-kadang di malan hari,
tetapi sering pada siang hari, dan melihat gelandangan mengemis. Suatu hari di
istana, sekembalinya dari nyekar, BK memanggil Mangil dan berkata,
"Coba, Mangil, engkau tanya sama orang sedang menggendong anak kecil
sambil menyusui itu, sebetulnya mereka itu punya rumah apa tidak, baik di
Jakarta maupun di daerah. Dan kalau memang tidak punya rumah, apakah mereka itu
sanggup dipindahkan ke tempat lain. Agar kalau Bapak jalan lewat di tempat itu,
orang perempuan yang menggendong anak kecil sudah tidak ada di sana. Saya
merasa kasihan sekali kepada perempuan yang menggendong anak kecil itu. Entah
bagaimana caranya, ini Bapak ada uang sedikit, kasihkan kepada mereka."
Suatu ketika BK sedang menonton
film di istana, ada adegan kijang kesakitan, ditembak seorang pemburu sementara
kijang itu masih mempunyai anak yang harus disusui. Beberapa penonton, baik
pelayan maupun pengawal, ketawa cekikikan, karena menurut pemandangan
mereka adegan tersebut sangat lucu.
Bung Karno langsung berteriak,
"Diam, kamu orang itu tidak tahu rasa kasihan." Penonton langsung cep
klakep, tidak ada yang berani berkutik.
Di sekitar Kandangan, Jawa Timur,
tempat BK diungsikan ketika Yogyakarta diserang Belanda, 21 Juli 1947, masih
banyak kijang liar. Suatu hari, seorang pengawal berhasil menembak mati seekor
kijang. Lalu dagingnya dimasak dan dibagi-bagikan kepada semua teman pengawal.
Daging terbaiknya disisakan untuk dibuat dendeng. Setelah siap, dendeng itu
diserahkan kepada koki yang memasak makanan untuk BK.
Bung Karno tahu, dendeng itu hasil
berburu. Akibatnya, para pengawal, dikumpulkan oleh BK. Lalu, ia berkata,
"Kamu orang ini betul-betul tidak mempunyai rasa kasihan kepada sesama
hidup. Apa salahnya kijang itu kamu tembak? Bagaimana kalau kijang yang kamu
tembak itu masih mempunyai anak kecil yang masih memerlukan pertolongan induknya?
Apakah kamu orang di sini kekurangan makan?" Semua pengawal diam dan mulai
saat itu tidak ada lagi anggota pengawal yang berburu.
Bung Karno yang gagah dan lantang
membangkitkan semangat rakyat (pemuda) untuk mengusir Belanda dengan semboyan:
"Sekali Merdeka Tetap Merdeka", ternyata juga pernah menangis.
Tanggal 18 Juli 1955, BK naik haji
ke Tanah Suci Mekkah. Ia bersama beberapa rombongan sempat mengheningkan cipta,
dan berdoa di samping makam Nabi Muhammad di Madinah. Saat itu BK menangis
seperti anak kecil. (Rye)
|