Halaman 9
MEMBANGUN DUNIA KEMBALI
Pidato Presiden
Republik Indonesia
Dimuka Sidang Umum P.B.B. ke - XV
tanggal 30 September 1960
Tuan Ketua,
Para Yang Mulia,
Para Utusan dan Wakil yang terhormat,
Hari ini, dalam mengucapkan pidato kepada Sidang Majelis Umum
Perserikatan Bangsa-Bangsa, saya merasa tertekan oleh suatu rasa tanggung-jawab yang
besar. Saya merasa rendah hati berbicara dihadapan rapat agung daripada
negarawan-negarawan yang bijaksana dan berpengalaman dari timur dan barat, dari utara dan
dari selatan, dari bangsa-bangsa tua dan dari bangsa-bangsa muda dan dari bangsa-bangsa
yang baru bangkit kembali dari tidur yang lama.
Saya telah
memanjatkan do'a kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar lidah saya dapat menemukan kata-kata
yang tepat untuk menyatakan perasaan hati saya, dan saya juga telah berdo'a agar kata-kata
ini akan bergema dalam hati sanubari mereka yang mendengarnya.
Saya merasa gembira
sekali dapat mengucapkan selamat kepada Tuan Ketua atas pengangkatannya dalam jabatannya
yang tinggi dan konstruktif. Saya juga merasa gembira sekali untuk menyampaikan atas nama
bangsa saya ucapkan selamat datang yang sangat mesra kepada keenambelas Anggauta baru dari
Perserikata Bangsa-Bangsa.
Kitab Suci Islam
mengamanatkan sesuatu kepada kita pada saat ini. Qur'an berkata: "Hai, sekalian
manusia, sesungguhnya Aku telah menjadikan kamu sekalian dari seorang lelaki dan seorang
perempuan, sehingga kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu sekalian
kenal-mengenal satu sama lain. Bahwasanya yang lebih mulia diantara kamu sekalian, ialah
yang lebih taqwa kepadaKu".
Dan juga Kitab Injil
agama Nasrani beramanat pada kita. "Segala kemuliaan bagi Allah ditempat yang
Mahatinggi, dan sejahtera diatas bumi diantara orang yang diperkenanNya".
Saya sungguh-sungguh
merasa sangat terharu melepaskan pandangan saya atas Majelis ini. Disinilah buktinya akan
kebenaran perjuangan yang berjalan bergenerasi. Disinilah buktinya, bahwa pengorbanan dan
penderitaan telah mencapai tujuannya. Disinilah buktinya, bahwa keadilan mulai berlaku,
dan bahwa beberapa kejahatan besar sudah dapat disingkirkan.
Selanjutnya, sambil
melepaskan pandangan saya kepada Majelis ini, hati saya diliputi dengan suatu kegirangan
yang besar dan hebat. Dengan jelas tampak dimata saya menyingsingnya suatu hari yang baru,
dan bahwa matahari kemerdekaan dan emansipasi, matahari yang sudah lama kita impikan,
sudah terbit di Asia dan Afrika.
Sekarang, hari ini,
saja berbicara dihadapan para pemimpin bangsa-bangsa dan para pembangun bangsa-bangsa.
Namun, secara tidak langsung, saya juga berbicara kepada mereka yang Tuan-tuan wakili,
kepada mereka yang telah mengutus Tuan-tuan kemari, kepada mereka yang telah mempercayakan
hari depan mereka ditangan Tuan-tuan. Saya sangat menginginkan agar kata-kata saya akan
bergema juga didalam hati mereka itu, didalam hati nurani ummat manusia, didalam hati
besar yang telah mencetuskan demikian banyak teriakan kegembiraan, demikian banyák
jeritan penderitaan dan putus-harapan, dan demikian banyak cinta-kasih dan tawa.
Hari ini presiden
Soekarno-lah yang berbicara dihadapan tuan-tuan. Namun lebih dari itu, ia adalah seorang
manusia, Soekarno, seorang Indonesia, seorang suami, seorang Bapak, seorang anggauta
keluarga ummat manusia. Saya berbicara kepada Tuan-tuan atas nama rakyat saya, mereka yang
92 juta banyaknya disuatu nusantara yang jauh dan luas, 92 juta jiwa yang telah mengalami
hidup penuh dengan perjuangan dan pengorbanan, 92 juta jiwa yang telah membangun suatu
Negara diatas reruntuhan suatu Imperium.
Mereka itu, dan
rakyat Asia dan Afrika, rakyat-rakyat benua Amerika dan benua Eropa serta rakyat benua
Australia, sedang memperhatikan dan mendengarkan serta mengharap-harap. Organisasi
Perserikatan Bangsa-Bangsa ini bagi mereka merupakan suatu harapan akan masa-depan dan
suatu kemungkinan-baik bagi zaman sekarang ini.
Keputusan untuk
menghadiri Sidang Majelis Umum ini bukanlah merupakan suatu keputusan yang mudah bagi
saya. Bangsa saya sendiri menghadapi banyak masalah, sedangkan waktu untuk memecahkan
masalah-masalah itu selalu sangat terbatas. Akan tetapi sidang ini mungkin merupakan
sidang Majelis yang terpenting yang pernah dilangsungkan dan kita semuanya mempunyai suatu
tanggung-jawab kepada dunia seluruhnya disamping kepada bangsa-bangsa kita masing-masing.
Tak seorangpun
diantara kita dapat menghindari tanggungjawab itu, dan pasti tak seorangpun ingin
menghindarinya. Saya sangat yakin bahwa pemimpin-pemimpin dari negara-negara yang lebih
muda dan negara-negara yang lahir kembali dapat memberikan sumbangannya yang sangat
positif untuk memecahkan demikian banyak masalah-masalah yang dihadapi Organisasi ini dan
dunia pada umumnya. Memang, saya percaya bahwa orang akan mengatakan sekali lagi bahwa:
"Dunia yang baru itu diminta untu memperbaiki keseimbangan dunia yang lama".
Jelaslah bahwa pada
dewasa ini segala masalah dunia kita saling berhubungan. Kolonialisme mempunyai hubungan
dengan keamanan; keamanan mempunyai hubungan dengan persoalan perdamaian dan perlucutan
senjata; perlucutan senjata berhubungan dengan perkembangan secara damai dari
negara-negara yang belum maju. Yah, segala itu saling bersangkut-paut. Jika kita pada
akhirnya berhasil memecahkan satu masalah, maka terbukalah jalan untuk penyelesaian
masalah-masalah lainnya. Jika kita berhasil memecahkan misalnya masalah perlucutan
senjata, maka akan tersedialah dana-dana yang diperlukan untuk membantu bangsa-bangsa yang
sangat memerlukan bantuan itu.
Akan tetapi, yang
sangat diperlukan ialah bahwa masalah-masalah semuanya itu harus dipecahkan dengan
penggunaan prinsip-prinsip yang telah disetujui. Setiap usaha untuk memecahkannya dengan
mempergunakan kekerasan, atau dengan ancaman kekerasan, atau dengan pemilikan kekuasaan,
tentu akan gagal bahkan akan mengakibatkan masalah-masalah yang lebih buruk lagi. Dengan
singkat, prinsip yang harus diikuti ialah prinsip persamaan kedaulatan bagi semua bangsa,
hal mana tentunya tidak lain dan tidak bukan, merupakan penggunaan hak-hak azasi manusia.
dan hak-hak azasi nasional. Bagi semua bangsa-bangsa harus ada: satu dasar, dan semua
bangsa harus menerima dasar itu, demi perlindungan dirinya dan demi keselamatan ummat
manusia.
Halaman 10 |