"DIA SEPERTI NAPOLEON", KATA SOEKARNO
(c) www.indomedia.com |
Itulah
komentar pertama Soekarno menyambut kelahiran putra sulungnya, Muhammad Guntur Soekarno
Putra, tanggal 3 November 1944, pukul 05.00, di Jakarta. Kelahiran bayi pertama ini segera
memancarkan kegembiraan seisi rumah. Bahkan Jenderal Yamamoto pun ikut menyumbangkan nama Osamu
kepada si kecil.
Bagi Fatmawati, kehadiran
Guntur, jelas memberi hiburan yang amat berarti, terutama di masa awal Republik ketika
sang suami sibuk dengan urusan kenegaraan. Itulah sebabnya, menurut Soekarno, Guntur itu
"anak ibunya." Maklum, semua anak-anak Soekarno yang lain tinggal di istana
bersama ayahnya. Sementara Guntur, setelah dewasa, mengikuti Ibu Fat meninggalkan istana,
tinggal di Jl. Sriwijaya, Kebayoran, Jakarta.
Pendidikan formal mulai dari SD sampai SMA
ditempuhnya di Cikini, sebelum kemudian meneruskan kuliah di ITB, jurusan mesin meski tak
sampai selesai. "Tapi, apapun jadinya kelak, cuma satu doaku untuknya," ujar
Soekarno suatu ketika, "Semoga dia tidak menjadi presiden. Kehidupan itu sungguh
terlalu berat." (Apa & Siapa, terbitan Grafitipers)
Di dalam tubuh suami dari Henny Emilia Hendayani
yang mojang Priyangan ini, mengalir darah seni sang ayah. Baik seni suara, musik, maupun
seni fotografi yang masih ditekuninya sampai sekarang. Menurut Ibu Fat, pada masa kecilnya
Guntur pintar menggambar. Sebagai pemain gitar, mulai nge-band sejak kelas 5 SD
dengan group Crazy Cat. Ketika di SMP membentuk band Ria Remaja.
"Kalau ketahuan oleh Bung Karno saya ikut main musik, ya dipelototin atau ditegur,
'Hey, kamu main ngak-ngik-ngok, ya? Awas, jangan main lagi!". Tapi kalau
nggak ketahuan, ya saya main lagi.. ha..ha, " ujar Guntur kepada Jakarta-Jakarta.
Kini disela-sela kesibukannya mengelola bisnisnya,
penyuka parfun Shalimar ini masih menyalurkan hobi memotret. Kegemarannya nonton film
action, dan spy, terkadang menimbulkan ilham atau ide dalam kegiatan hobi fotografinya. Ia
mengaku, tokoh-tokoh jagoan yang lahir dalam imajinasinya adalah seorang tokoh campuran
dari pribadi-pribadi seperti James Bond, Dirty Harry, Elliot Ness, Jack Ryan, bahkan
Indiana Jones. Untuk merealisasikan idenya tadi, ia rela memnyediakan waktu
"hunting" model agar tokoh imajiner tadi bisa dituangkan ke kertas foto atau
seluloid berwarna.
Salah satu karya tulis ayah seorang putri bernama
Puti Pramatha Puspaseruni ini adalah buku, Bung Karno; Bapakku, Kawanku, dan Guruku.
Toh dengan rendah hati ia mengakui, "Mungkin isinya tidak terlalu akurat. Soalnya,
saya hanya ambil dari segi human interest-nya saja." (*/djs) |