| MEMPERINGATI HUT KE 100 BUNG KARNO |
BUNG KARNO
‘FOUNDING FATHER’ TERKEMUKA
NASION INDONESIA
(Bagian II)
MENGAPA BELANDA MENUDUH BUNG KARNO 'KOLABORATOR'?
DAN MENCAP REPUBLIK INDONESIA 'MADE IN JAPAN'?
Tue, 13 Mar 2001 00:03:50 +0100
(Ditulis dalam rangka Peringatan HUT KE-100 BUNG KARNO)
SUATU TUDUHAN KEJI
Pemerintah kolonial Belanda adalah yang pertama-tama yang melontarkan
tuduhan keji bahwa Republik Indonesia yang diproklamasikan oleh Ir Sukarno
dan drs Mohammad Hatta atas nama bangsa Indonesia, pada tanggal 17 Agustus
1945, adalah 'republik buatan Jepang' dan bahwa Sukarno adalah boneka dan
'kolaborator' Jepang. Pada instansi pertama tuduhan tsb ditujukan untuk
menipu dunia internasional. Strategi Belanda yang utama untuk bisa kembali
sebagai penguasa di Indonesia, adalah membangun kembali kekuatan militer dan
administratifnya. Ini dilakukannya dengan bantuan dari Inggris dan Amerika
Serikat, yang mempunyai kepentingan sama dengan Belanda di Asia, yaitu
memulihkan dominasi mereka atas Asia, sesudah Jepang menyerah kepada Sekutu.
Tapi, sebelum kekuatan militernya cukup besar, Belanda memerlukan waktu.
Selama itu Belanda harus menemukan senjata politik dan propaganda yang
dianggapnya ampuh untuk menghadapi situasi di 'bekas' jajahannya Hindia
Belanda, yang samasekali tidak pernah diimpikannya. Situasi yang samasekali
tidak diduga-duga oleh Belanda tsb, ialah diproklamasikannya Republik
Indonesia.
Yang semula tidak disadari dan tidak hendak dimengerti oleh Belanda ialah,
bahwa dalam kurun waktu tiga setengah tahun pendudukan Jepang, situasi
mental dan fisik bangsa kita telah mengalami perubahan yang fundamentl.
Bangsa kita sudah tidak merasa inferiur lagi terhadap bangsa lainnya.
Khususnya terhadap bangsa Belanda yang sudah begitu lama menjajah Indonesia.
Bangsa kita sudah tidak takut kepada Belanda dan siapapun yang mau
merintangi pelaksanaan cita-citanya. Hasrat dan tekad bangsa kita untuk
merdeka tanpa bantuan siapapun telah mencapai puncaknya dengan meletusnya
Revolusi Agustus 1945. Ini yang sampai dewasa ini masih belum bisa difahami
dan tidak hendak dimengerti oleh sementara kalangan di Belanda. Makanya bagi
mereka itu, kemerdekaan Indonesia jatuh pada bulan Desember 1949, yaitu
tanggal 'penyerahan kedaulatan' oleh pemerintah Belanda kepada Indonesia,
sesuai persetujuan KMB. Jadi bukan pada tanggal 17 Agustus 1945, saat
diproklamasikannya Republik Indonesia.
Inggris dan apalagi Belanda tadinya sangat mensepelekan perubahan besar
dengan telah diproklamasikannya Republik Indonesia. Tetapi kemudian mereka
mulai khawatir, karena perkembangan politik selanjutnya tidak sesuai dengan
pridiksinya. Bagaimana menghadapi situasi baru dimana di bekas jajahannya,
di 'Hindia Belanda' telah berdiri sebuah negara merdeka. Sebuah Republik
yang dalam waktu yang begitu singkat telah melengkapi dirinya dengan sebuah
pemerintah yang meliputi semua kekuatan nasional patriotik, memiliki
undang-undang dasar serta sebuah Komite Nasional yang berfungsi sebagai
parlemen. Yang lebih krusial lagi bagi Belanda bahwa Republik yang muda itu
telah mampu membangun kekuatan bersenjata dan aparat keamanan negara.
PERUBAHAN FUNDAMENTAL
Dalam usahanya untuk kembali menguasai 'Hindia Belanda' yang sudah lenyap
dari geopolitik Indonesia itu, pemerintah Belanda di Den Haag telah
mendirikan NICA (Netherlands Indies Civil Administration) berpusat di
'Batavis', dengan Van Mook sebagai kepalanya. NICA pada hakikatya adalah
reinkarnasi dari pemerinah Hindia Belanda dulu. Belanda juga menyadari
bahwa situasi internasional sesudah dikalahkannya fasisme Jerman, Itali dan
Jepang, jauh berbeda dengan keadaan dunia sebelumnya. Perubahan geopolitik
dunia yang fundamental ialah bahwa fasisme dunia yang tergabung di dalam
persekutuan poros 'A s' (Jerman, Itali dan Jepang) telah mengalami
kekalahan total dalam Perang Dunia II. Suatu gejala baru sesudah Perang
Dunia II, yang mencirii perubahan tsb ialah bahwa dalam kekuatan gabungan
Sekutu itu, termasuk Uni Sovyet yang telah muncul sebagai salah satu
pemenang perang.
Munculnya negeri Sosialis Uni Sovyet sebagai salah satu pemenang dalam
Perang Dunia II, telah membawa perubahan dalam imbangan kekuatan politik
antara gerakan kemerdekaan rakyat dan bangsa-bangsa terjajah melawan
kolonialisme di satu fihak dengan kolonialisme dan imperialisme di ujung
lainnya. Penyebab penting dari perubahan ini, a.l., karena Uni Sovyet
dengan konsisten memberikan sokongan yang kuat kepada gerakan kemerdekaan
bangsa-bangsa terjajah, khususnya di Asia dan Afrika. Kenyataan lain ialah
bahwa kekuatan negeri-negeri kolonialis seperti Inggris, Perancis, Belanda,
Belgia, dll, telah menjadi amat lemah. Negeri Sosialis seperti Uni Sovyet
dan Republik Sosialis Ukraina, anggota dari URSS, yang punya kedudukan
sendiri di PBB, bersama Kerajaan Mesir, menyokong kemerdekaan Indonesia,
yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. Kita masih ingat pidato
utusan Ukraina di PBB yang membela Republik Indonesia. Dalam konstelasi
politik internasional seperti itu, sambil merebut waktu memperbesar kekuatan
militernya, Belanda memanfaatkan suasana anti-fasis di dunia internasional,
dengan mempergiat kampanya mencap Republik Indonesia sebagai negara boneka
bikinan Jepang, dan bahwa presiden kepala negaranya, Ir Sukarno, adalah
seorang 'kolaborator' Jepang, 'Quisling-nya Indonesia'. Melalui kapamnye
fitnah itu Belanda berharap bisa mengicuh pendapat umum dunia, bahwa
tindakan Belanda menindas Republik Indonesia bisa dibenarkan, karena negara
baru itu adalah buatan fasis Jepang dan karena pimpinan utamanya, Sukarno,
adalah seorang 'kolaborator fasis'.Dengan gampang-gampangan saja kaum
kolonialis Belanda dan orang-orang yang sefaham dengan mereka, mempersamakan
Bung Karno dengan seorang pengkhianat bangsa seperti Vidkum Quisling.
BUNG KARNO BUKAN QUISLING
Siapa Vidkum Quisling? Quisling adalah seorang opsir tentara Norwegia
sebelum Perang Dunia II. Ia pernah menjabat sebagai menteri. Ia mendirikan
sebuah partai fasis, bernama Nasyonal Samling (National Union), sebuah
partai fasis di Norwegia. Ketika Quisling bertemu dengan Adolf Hitler dalam
tahun 1939, tahun permulaan Perang Dunia II, ia mengusulkan kepada Hitler
agar Jerman menduduki Norwegia. Sesudah Norwegia diduduki oleh Jerman,
Quisling diangkat oleh Hitler sebagai kepala pemerintahan Norwegia. Quisling
bertanggungjawab atas penidasan dan eksekusi terhadap pejuang-pejuang
Nowegia yang melawan pendudukan Jerman, dan juga bertanggungjawab mengenai
pengiriman ribuan orang-orang Jahudi asal Norwegia, yang oleh Hitler
dibunuh di kamp-kamp eksterminasi. Dengan berakhirnya Perang Dunia II dan
Norwegia bebas kembali, Quisling dihukum mati sebagai pengkhianat bangsa.
Nama Quisling adalah identik dengan pengkhianat bangsa, pengkhianatan
terhadap negeri.
Siapa Ir. Sukarno? Setiap pejuang kemerdekaan Indonesia mengenal Bung Karno
sebagai patriot pejuang kemerdekaan Indonesia melawan penjajahan Belanda,
yang kesetiaannya terhadap rakyat dan tanahair Indonesia tidak sedikitpun
diragukan. Bung Karno adalah bapak nasion Indonesia. Bung Karno adalah
proklamator negara Republik Indonesia. Sebagaimana halnya dr Sun Yatsen
tercatat dalam sejarah sebagai pencipta konsepsi dan program dari negara
Tiongkok modern, yang terkenal dengan nama 'San Min Chu Yi', serta diakui
sebagai bapak negara Republik Tiongkok; sebagaimana halnya George Washington
bersama teman-teman seperjuangannya melahirkan 'Declaration of Independence'
dan adalah bapak negara Amerika Serikat; maka begitulah pula halnya Bung
Karno tercatat dalam sejarah Indonesia sebagai pencipta dari konsepsi dasar
negara Indonesia, yaitu 'Panca Sila' dan adalah bapak negara dari negara
kesatuan Republik Indonesia.
Adakah alasan ataupun dasar untuk menuduh Bung Karno sebagai kolaborator
seperti Quisling? Baik kita periksa bersama!
BAGAIMANA KENYATAANNYA?
Bagaimana situasi Indonesia sebelum pendudukan Jepang?
Bagaimana sikap pemerintah kolonial Belanda terhadap pejuang-pejuang
kemerdekaan Indonesia, khususnya terhadap pemimpin-pemimpin perjuangan
seperti Bung Karno, Hatta, dan Syahrir? Semua pemimpinn utama tsb
bertahun-tahun lamanya dipenjarakan atau dibuang oleh Belanda. Banyak pejua
ng kemerdekaan yang dibuang ke tempat pembuangan terkenal yaitu BOVEN
DIGOEL, menemui ajalnya di sana. Tuntutan kaum nasionalis yang mengambil
sikap masih mau bekerjasama dengan pemerintah kolonial Belanda, yang masih
mengharap terbetiknya hatinurani pemerintah Belanda, untuk mempersiapkan
rakyat Indonesia dengan baik menghadapi invasi balatentara kerajaan Jepang,
telah ditolak. Pemerintah kolonial Hindia Belanda tidak berani
mempersenjatai bangsa kita menghadapi balatentara Jepang yang sudah jelas
mengancam Indonesia. Pemerintah Hindia Belanda tidak berani mengambil risiko
mempersenjatai rakyat Indonesia. Mereka memperhitungkan bahwa bila rakyat
Indonesia dipersenjatai menghadapi Jepang, sekali Jepang terusir dari
Indonesia, maka akan terjadi situasi 'senjata makan tuan'.
Maka bisa dibayangkan betapa geramnya hati para pejuang kemerdekaan
Indonesia terhadap sikap pemerintah Hindia Belanda. Kecewa dan marah!
Pemerintah Hindia Belanda tetap mencurigai bangsa Indonesia dan samasekali
tidak ada rasa tanggungjawab apalagi tindakan nyata terhadap bahaya yang
mengancam rakyat dan negeri. Pemerintah Belanda tetap menganggap
pejuang-pejuang kemerdekaan yang konsisten berjuang terus sebagai musuh
negara. Itulah sebabnya mengapa mereka masih tetap disekap Belanda dalam
penjara, dalam pembuangan, ataupun di kamp terasing Boven Digoel, Nieuw
Guinea (sekarang Irian Barat) yang penuh dengan penyakit malaria. Sikap
kepala batu pemerintah kolonial Belanda tsb tetap tidak berubah sampai saat
mendaratnya serdadu pendudukan yang pertam di bumi Indonesia.
Dalam situasi demikian itu, bagaimana sifat hubungan politik antara penjajah
Hindia Belanda dengan bangsa kita, khususnya dengan para pejuang kemerdekaan
Indonesia? Hubungan itu adalah hubungan antara penjajah dan yang terjajah,
hubungan antara penindas dan yang tertindas, hubungan antara dua fihak yang
secara politik dan perasaan bersifat antagonistik. Bagi kaum patriot
Indonesia yang masih mendekam di balik jeruji besi penjara-penjara
pemerintah, yang masih terasing di pembuangan, pemerintah Hindia Balanda itu
adalah m u s u h. Pemerintah Hindia Belanda yang menghadapi ancaman dari
balatentara Jepang, samasekali bukan pemerintah Indonesia yang membela
kepentingan rakyat Indonesia. Maka sedikitpun tidak ada niat para pejuang
kemerdekaan dan rakyat yang luas untuk membela pemerintah Hindia Belanda.
Semakin cepat pemerintah kolonial Hindia Belanda ambruk dan lenyap dari
Indonesia, bagi para pejuang kemerdekaan yang konsisten, hal itu semakin
baik. Itulah logika perjuangan untuk kemerdekaan dan keadilan. Itulah logika
para founding fathers kita. Itulah logika Bung Karno, Bung Hatta, Bung
Syahrir dan para pejuang lainnya.
Ketika balatentara Jepang datang menyerbu, tentara Hindia Belanda, yaitu
KNIL (Koningklijke Nederlands Indische Leger) lari lintang pukang. Dalam
beberapa hari saja, di Kalijati, Jawa Berat, panglima KNIL Jendral Ter
Poorten, telah menandatangani perjanjian menyerah tanpa syarat kepada
balatentara Dai Nippon.
MENYUSUN STRATEGI DAN TAKTIK YANG TEPAT
Bagaimana sikap Jepang, penguasa baru Indonesia? Para pejuang kemerdekaan
Indonesia, lebih-lebih para pemimpinnya seperti Bung Karno, Bung Hatta,
Syahrir dll bukannya tidak tahu siapa Jepang sebagai suatu negeri imperialis
yang militeristis dan fasis. Tetapi yang pokok bagi para pejuang kemerdekaan
ialah bagaimana memanfaatkan situasi dimana kekuasaan kolonialisme Belanda
yang telah bercokol begitu lama, saat itu oleh Jepang telah
disapu lenyap dari permukaan bumi Indonesia. Bagaimanapun gejala ini adalah
menguntungkan bagi perkembangan perjuangan rakyat kita untuk kemerdekaan
nasional. Maka haruslah melihat dan mempelajari kongkrit bagaimana
menghadapi kekuatan militer Jepang yang datang menduduki Indonesia. Melihat
dulu bagaimana sikap Jepang.
Pertama-tama yang Jepang lakukan ialah membebaskan semua tahanan politik
Hindia Belanda. Termasuk para pemimpin seperti Bung Karno, Bung Hatta, Bung
Sharir dll.
Demi untuk merealisasi ambisi imperialisnya, menjadi pembimbing dan pemimpin
Asia Timur Raya, yang berjanji akan membebaskan Asia Timur Raya, Jepang
tidak sertamerta memusuhi rakyat Indonesia dan pemimpin-pemimpin gerakan
kemerdekaan Indonesia. Sebaliknya Jepang menawarkan kerjasama, agar rakyat
Indonesia tidak memusuhi kekuasaan pendudukan Jepang di Indonesia. Sebagai
imbalannya, Jepang akan memberikan konsesi-konsesi tertentu, yang
memungkinkan para pejuang kemerdekaan Indonesia, khususnya para pemimpin
nasional seperti Bung Karno dan Bung Hatta, memperoleh kesempatan melakukan
pekerjaan politik dan organisasi guna mempersiapkan seluruh rakyat untuk
datangnya 'D-DAY'. Para pemimpin menyadari betul bahwa perlu waktu dan
kesempatan untuk melakukan pekerjaan besar pendidikan politik dan organisasi
mempersiapkan revolusi yang akan memerdekakan bangsa dan tanah air kita.
Tanpa pendidikan politik, tanpa pemobilisasian yang bisa menyatukan hati dan
fikiran rakyat yang luas, tanpa persiapan-persiapan organisasi, maka
tidaklah mungkin diharapkan akan ada kesiapan yang cukup bila datang saatnya
bangsa kita harus mengambil nasib ditangannya sendiri.
Mempertimbangkan faktor-faktor kongkrit sperti itu, serta situasi
berkecamuknya Perang Pasifik, dimana Jepang memerlukan suatu garis belakang
yang 'stabil' yang tidak mengganggunya menghadapi tentara Sekutu, khususnya
Amerika Serikat, halmana memaksa Jepang memberikan janji-janji dan
konsesi-konsesi tertentu kepada para pemimpin perjuangan kemerdekaan;
mempertimbangkan perlunya merebut kesempatan dan waktu, maka sesudah
matang-matang bertukar fikiran, Bung Karno, Bung Hatta, Bung Syahrir dan
sementara pemimpin lainnya, memutuskan untuk menempuh strategi dan taktik
yang paling cocok. Strategi dan taktik itu merupakan satu-satunya yang
tepat, lagipula tidak ada alternatif lain yang lebih sesuai dan tepat.
Strategi dan taktik itu adalah : menerima uluran tangan Jepang tsb dan
dengan sebaiknya memanfaatkan waktu dan kesempatan.
Para pemimpin nasional saat itu dengan sendirinya telah mempertimbangkan
masak-masak bahwa Jepang juga menuntut konsesi politik dan konsesi
lain-lain, dalam rangka pelaksanaan agenda perangnya. Jepang menghendaki
agar bangsa Indonesia mendukung usaha perang Jepang melawan Sekutu. Konsesi
ini juga dengan amat berat terpaksa diterima oleh para pemimpin kita itu.
Para pemimpin itu menyimpulkan bahwa Bung Karno dan Bung Hatta harus
bekerjasama dengan Jepang, agar bisa menggunakan konsesi yang diberikan
Jepang untuk melakukan pekerjaan persiapan untuk kemerdekaan tanah air dan
bangsa. Sedangkan Bung Syahrir dan pejuang-pejuang lainnuya melakukan
pekerjaan di bawah tanah, untuk persiapan yang sama. Dengan demikian
terbentuklah suatu kordinasi, pembagian pekerjaan dan tugas di antara para
pemimpin tsb menghadapi perjuangan selanjutnya.
Strategi dan taktik yang diambil oleh Bung Karno, Bung Hatta, Bung Syahrir
dalam meneruskan perjuangan di bawah syarat yang sulit semasa pendudukan
tentara Jepang, ternyata adalah strategi yang tepat, yang telah membawa
perjuangan ke puncaknya, yaitu meletusnya Revolusi Agustus 1945 yang telah
memerdekakan tanah air kita dari kolonialisme Belanda.
Menamakan pelaksanaan strategi dan taktik perjuangan kemerdekaan yang
diciptakan oleh para founding fathers kita sebagai 'kolaborasi dengan
musuh', sebagai 'pengkhianatan', adalah suatu kesimpulan yang asing dari
logika bangsa kita. Kesimpulan yang menuduh Bung Karno sebagai 'kolaborator'
hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang tidak mengenal sejarah dan
semangat dari perjuangan rakyat Indonesia untuk kemerdekaan. Mereka-mereka
itu adalah kaum kolonialis dan segelintir pendukung-pendukungnya.
************
Sumber informasi a.l. dari literatur sbb:
1. Dibawah Bendera Reolusi I, II. (Ir. Sukarno).
2. SUKARNO, (J.D Legge).
3. Sukarno an autobiography as told to Cindy Adams.
4. Recollections of an Indonesian diplomat in the Sukarno era (Ganis Harsono)
5. Leaders (Richard Nixon).
6. Memoar OEI TJOE TAT (Oei Tjoe Tat)
7. SYAHRIR "Politics and exile in Indonesia" (Rudolf Mrazek).
8. Problems of the Indonesian Revolution (DN Aidit)
Ibrahim Isa
Amsterdam
* * * *
Back
Forward