| MEMPERINGATI HUT KE 100 BUNG KARNO |
BUNG KARNO
‘FOUNDING FATHER’ TERKEMUKA
NASION INDONESIA
(Bagian IV)
BUNG KARNO - KAMPIUN PEMERSATU
Sun, 18 Mar 2001 15:48:04 +0100
(Ditulis dalam rangka Peringatan HUT KE-100 BUNG KARNO)
Tidaklah berkelebihan bila dikatakan bahwa Bung Karno adalah juru p e m e r
s a t u yang paling unggul dan yang paling kampiun dari bangsa Indonesia.
Beliau memiliki keyakinan yang begitu konsisten, bahwa bila bangsa kita
hendak mencapai kemerdekaan yang dicita-citakan, maka bangsa ini,
pertama-tama harus siap melakukan perjuangan yang sulit dan panjang. Selain
itu, masih ada satu faktor yang amat fundamentil yang perlu dipenuhi untuk
tercapainya tujuan mulya itu, yaitu masalah persatuan.
Beliau amat menyadari bahwa perjuangan yang panjang dan penuh kesulitan itu,
tidak akan mencapai hasil bila hal itu dilakukan hanya oleh segolongan
saja dari bangsa ini. Tidak akan mencapai tujuannya bila hanya dilakukan
oleh satu atau beberapa organisasi perjuangan atau partai politik.
Perjuangan untuk kemerdekaan bangsa dan negeri harus dilakukan dengan
keikutsertaan semua kekuatan bangsa yang digabungkan dalam satu kekuatan
nasional yang maha besar. Perjuangan yang beliau lakukan untuk kemerdekaan
Indonesia, sekaligus merupakan perjuangan untuk mempersatukan seluruh
kekuatan bangsa melawan penjajahan Belanda. Bung Karno memandang perjuangan
untuk kemerdekaan nasional sebagai suatu proses yang menyatu dengan
perjuangan untuk pembinaan nasion Indonesia.
Bahwa partai politik yang didirikan oleh Bung Karno, bukan suatu partai
politik yang didasarkan atas agama, atau suatu partai yang didasarkan atas
suatu ajaran ilmu sosial tertentu, suatu isme tertentu, misalnya Marxisme,
hal itu bukanlah sesuatu yang kebetulan. Beliau berkeyakinan diperlukan
suatu wadah dan dasar yang sesuai untuk bisa mencapai tujuan mempersatukan
seluas mungkin potensi perjuangan yang ada di dalam masyarakat. Itulah
sebabnya, mengapa partai politik yang beliau dirikan adalah Partai Nasional
Indonesia. Menyadari keanekaragaman Indonesia dari segi etnis dan kultur,
serta luas dan masalah jarak dan lautan yang merupakan kendala bagi
komunikasi yang normal dsb., maka jelas kiranya, mengapa Bung Karno ketika
memulai perjuangan politik, pertama-tama menitik beratkan perhatian dan
usaha beliau a.l. pada masalah p e m b a n g u n a n n a s i o n
Indonesia. Membangun nasion Indonesia, dengan mendidikkan pemahaman terhadap
sejarah bangsa sendiri, dengan senantiasa memperbesar rasa cinta dan
tanggungjawab setiap manusia Indonesia pada tanah air dan bangsanya. Dengan
membangun rasa patriotisme pada masyarakat, khususnya pada generasi muda,
sebagai dasarnya. Dengan memberikan kesadaran akan identitas serta rasa
bangga yang wajar sebagai bangsa yang memiliki kebudayaan dan tradisi yang
begitu kaya. Dengan demikian dimaksudkan sejak awal, menangani secara serius
masalah pembinaan dan persatuan bangsa. Suatu proses pendidikan dan
perjuangan yang akhirnya tiba pada suatu titik puncak ditemukannya identitas
dirinya dalam wadah kebangsaan, pada kenyataan bahwa kita adalah penduduk
dari satu negeri kepulauan, yaitu Indonesia; bahwa kita memiliki bahasa yang
menjadi alat komunikasi bersama, yaitu bahasa Indonesia; bahwa kita
merupakan suatu bangsa yang satu, yaitu bangsa Indonesia.
Proses ini dimulai dari akarnya, yaitu memecahkan masalah memberikan
kesadaran politik pada bangsa yang mendiami wilayah begitu luas, dari Sabang
sampai ke Merauke. Memberikan kesadaran bahwa penduduk yang ketika itu
berjumlah puluhan juta itu, terdiri dari pelbagai sukubangsa bagaikan suatu
mozaik yang indah, yang terdiri dari sukubangsa Jawa, Sunda, Madura,
Lampung, Minangkabau, Batak, Melayu, Aceh, Dayak, Makasar, Bugis, Minahasa,
Maluku, Bali, Timor, Irian, dll, serta mempunyai latar belakang sejarah dan
nasib yang sama. Namun, selama ratusan tahun menderita di bawah kekuasaan
kolonialisme Kerajaan Belanda. Bahwa nasib dari bangsa Indonesia yang
miskin, terbelakang, terkungkung dan terbelenggu itu hanyalah bisa diubah
secara menyeluruh, melalui suatu perjuangan untuk mencapai kemerdekaan.
Bahwa berhasil tidaknya perjuangan itu, banyak tergantung pada keadaan
apakah bangsa kita bisa membangun suatu persatuan kokoh yang mencakup semua
golongan dan kekuatan sosial-politik yang ada di dalam masyarakat Indonesia.
Sebagai pejuang kemerdekaan, Bung Karno merasa dirinya pertama-tama adalah
orang Indonesia. Beliau tidak melihat dirinya, pertama-tama sebagai bangsa
Jawa, atau sebagai bangsa Bali. Juga tidak bertolak dari pendirian bahwa
dirinya pertama-tama, sebagai orang yang beragama Islam. Tetapi jelas,
sebagai seorang Muslim, BungKarno dengan sungguh-sungguh membaca dan
mempelajari ajaran Islam, serta berusaha mengkhayatinya dalam kehidupan
bermasyarakat. Ketika beliau semasa belajar di HBS di Surabaya 'mondok' di
rumah H.O.S. Tjokroaminoto, pemimpin Sarikat Islam yang kharismatik dan
punya pengaruh besar, pemimpin Sarika Islam itu praktis menjadi 'mentor'
Bung Karno dalam proses memahami seluk-beluk politik dan perjuangan.
Dalam periode itu BungKarno memperoleh kesempatan yang amat berharga untuk
belajar dari HOS Tjokroaminoto mengenai Islam dan Islamise, serta saling
hubungan antara Islam-isme dan perjuangan untuk kemerdekaan. Periode tsb
menambah keyakinan BungKarno mengenai banyak dan pentingnya kesamaan antara
Islamisme, Nasionalisme dan pandangan-pandangan Kiri yang ketika itu
termanifestasi pada gerakan sosial-politik yang breorientasi pada Marxisme.
Sebagai insan politik yang banyak menyelami pandangan, teori politik dan
ekonomi yang dikenal sebagai pandangan yang Kiri, khususnya Marxime, Bung
Karno tidak menyembunyikan bahwa beliau tidak sedikit mendapatkan inspirasi
dari pandangan-pandangan Kiri itu, khususnya pandangan dan teori Marx dan
pemimpin-pemimpin gerakan kiri lainnya di Eropah ketika itu, mengenai
kapitalisme dan imperialisme. Namun, pertama-tama beliau merasa dirinya
sebagai putra Indonesia, yang kewajiban utamanya adalah berjuang untuk
kepentingan bangsanya sendiri.
Dari pendirian patriotik inilah beliau mendirikan Indonesia Muda yang
kemudian berkembang dan dikenal sebagai Partai Nasional Indonesia.
Juga tidak berkelebihan untuk mengatakan bahwa dari sejumlah pimpinan
gerakan kemerdekaan Indonesia, dari para 'founding fathers' nasion kita
ini, adalah Bung Karno yang pertama-tama mengungkap dan mengkhayati
kenyataan yang ada ketika itu, bahwa kekuatan sosial dan politik Indonesia
yang terlibat dalam perjuangan untuk kemerdekaan bangsa, adalah kekuatan
sosial politik Nasoinalisme, Islamisme dan Marxisme. Bung Karno tidak
berhenti di situ, beliau melihat dan mengkhayati bahwa ketiga kekuatan
sosial-politik di dalam masyarakat Indonesia, yang melakukan perjuangan
untuk kemerdekaan bangsa dan negeri, perlu memiliki kesadaran untuk bersatu!
Dari situlah a.l. lahir tulisan Bung Karno berjudul "NASIONALISME, ISLAMISME
DAN MARXISME", yang beliau publikasikan didalam penerbitan SULUH INDONESIA
MUDA, 1926. (Baik untuk dikemukakan di sini bahwa meskipun karya Bung Karno itu ditulis
75 tahun yang lalu, kecuali mempunyai arti sejarah, ia tetap memiliki
nilai-nilai berharga yang masih tetap relevan bila dihubungkan dengan
kondisi kongkrit dewasa ini yang telah mengalam perubahan-perubahan besar!)
Kecuali melakukan analisa yang mendalam mengenai kekuatan sosial politik
masing-masing aliran, yaitu aliran Nasionalisme, aliran Islamisme dan aliran
Marxisme, untuk mengarahkan masing-masing aliran itu untuk melakukan
kerjasama dan bersatu demi usaha perjuangan untuk kemerdekaan bangsa, Bung
Karno memberikan kritik yang beralasan kepada masing-masing
aliran, yang bersikap saling menolak terhadap aliran lainnya. Seyogianya ada
baiknya kita cermati bersama tulisan Bung Karno, mengenai masalah yang
bersangkutan, seperti yang dikutip di bawah ini:
"Pergerakan Marxis di Indonesia ini, ingkarlah sifatnya kepada pergerakan
yang berhaluan Nasionalistis, ingkarlah kepada pergerakan yang berazas
ke-Islam-an. Malah beberapa tahun yang lalu, keingkaran ini sudah menjadi
suatu pertengkaran perselisihan faham dan pertengkaran sikap, menjadi suatu
pertengkaran saudara, yang, sebagai yang sudah kita terangkan dimuka,
meyuramkan dan menggelapkan hati siapa yang mengutamakan perdamaian,
menyuramkan dan menggelapkan hati siapa yang mengerti, bahwa dalam
pertengkaran yang demikian itulah letaknya kealahan kita. Kuburkanlah
nasionalisme, kuburkanlah politik cinta tanah-air, dan lenyapkanlah
politik-keagamaan, --begitulah seakan-akan lagu-perjoangan yang kita dengar.
Sebab, katanya: Bukankah Marx dan Engels mengatakan, bahwa 'kaum buruh itu
tak mempunyai tanah-air'? Katanya : Bukankah dalam 'MANIFES KOMUNIS' ada
tertulis, bahwa "komunisme itu melepaskan agama"? Katanya: Bukankah Bebel
telah mengatakan , bahwa "bukanlah Allah yang membikin manusia, tetapi
manusialah yang membikin-bikin Tuhan"?
"Dan sebaliknya! Fihak Nasionalis dan Islamis tak berhenti-henti pula
mencaci-maki fihak Marxis, mencaci-maki pergerakan yang "bersekutuan" dengan
orang asing itu, dan mecaci-maki pergerakan yang "mungkir" akan Tuhan.
Mencaci pergerakan yang mengambil teladan akan negeri Rusia yang menurut
pendapatnya: azasnya sudah palit dan bahkan mendatangkan "kalang-kabutnya
negeri" dan bahaya-kelaparan dan hawar-penyakit yang mengorbankan nyawa
kurang lebih limabelas juta manusia, suatu jumlah yang lebih besar dari pada
jumlahnya sekalian manusia yang binasa dalam peperangan besar yang akhir
itu.
"Demikianlah dengan bertambahnya tuduh-menuduh atas dirinya masing-masing
pemimpin, duduknya perselisihan beberapa tahun yang lalu: satu sama lainnya
sudah s a l a h mengerti dan saling tidak mengindahkan."
Selanjutanya dalam tulisannya itu Bung Karno banyak mengeritik sikap dan
pandangan masing-masing golongan khususnya kaum Marxis yang kaku dan tidak
bisa melihat perubahan yang terjadi sejak lahirnya Marxisme. Beliau juga
menunjukkan bahwa perjuangan ketiga aliran politik tsb yakni Nasionalisme,
Islamisme dan Marxisme mempunyai dasar bersama yang kokoh, yaitu tujuan
kemerdekaan dan kebesaran Indonesia.
Pada penutupan artikel beliau itu, Bung Karno menjelaskan lagi:
"Dengan jalan yang jauh kurang sempurna, kita mencoba membuktikan, bahwa
faham Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme itu dalam negeri jajahan pada
berbagai bagian menutupi satu sama lain. Dengan jalan yang jauh kurang
sempuna kita menunjukkan teladan pemimpin- pemimpin di lain negeri. Tetapi
kita yakin , bahwa kita dengan terang benderang menunjukkan kita menjadi
satu . Kita yakin pemimpim-pemimpin Indonesia semuanya insyaf bahwa
Persatuan-lah yang membawa kita ke arah ke-Besaran dan ke-Merdekaan. Dan
kita yakin pula , bahwa, walaupun fikiran kita tidak mencocoki semua kemauan
dari masing-masing fihak, ia menunjukkan bahwa Persatuan itu b i s a
dicapai".
Sesudah menyatakan harapan yang mendambakan akan munculnya Kampiun Persatuan
di cakrawala gerakan kemerdekaan Indonesia, Bung Karno memberikan saran yang
berbunyi sbb:
"Kita harus bisa menerima; tetapi kita juga harus bisa memberi. Inilah
rahasianya Persatuan itu. Persatuan tak bisa terjadi, kalau masing-masing
fihak tak mau memberi sedikit-sedikit pula.
Dan jikalau kita semua insyaf, bahwa kekuatan hidup itu letaknya tidak dalam
menerima, tetapi dalam memberi; jikalau kita semua insyaf bahwa dalam
percerai-beraian itu letaknya benih perbudakan kita; jikalau kita semua
insyaf , bahwa permusuhan itulah yang menjadi asal kita punya " v i a d o
l o r o s a "; jikalau kita insyaf, bahwa Rokh Rakyat Kita masih penuh
kekuatan untuk menjunjung diri menuju Sinar yang Satu yang berada
ditengah-tengah kegelapan-gumpita yang mengelilingi kita ini, -- maka p a
s t i l a h Sinar itu tercapai juga. Sebab Sinar itu d e k a t ! "
Demikian sekadar kutipan yang diambilkan dari tulisan Bung Karno. Kutipan
yang disajikan agak panjang juga. Namun dirasakan keperluannya, untuk
mendapat sekadar gambaran tentang keyakinan dan hasrat Bung Karno yang
beliau perjuangkan sejak masa muda beliau untuk membangun persatuan di
kalangan bangsa kita, demi kepentingan perjuangan untuk kemerdekaan dan
kebesaran bangsa.
Apa yang ditulis oleh Bung Karno 75 tahun yang lalu, didasarkan pada situasi
dan kondisi saat itu. Situasi sekarang sudah banyak berubah. Suatu negara
Indonesia yang merdeka telah berdiri 50 tahun lebih. Bung Karno, bapak
bangsa kita, telah digulingkan dan dipersekusi oleh Jendral Suharto dan
komplotannya, sampai beliau meninggal. Suatu kekuasaan yang menamakan
dirinya Orde Baru di bawah mantan Jendral Suharto telah mengubah Indonesia
yang merdeka, menjadi suatu negeri otoriter yang menginjak-injak hak-hak
demokrasi dan HAM .
Kekuasaan Orba yang berlangsung selama 32 tahun, telah menghancurkan usaha
persatuan bangsa yang dengan begitu susah payah diusahakan dan diperjuangkan
oleh Bung Karno dan pemimpin-pemimpin partai politik Islam, Nasionalis dan
Marxis, dalam suatu wadah yang oleh Bung Karno sendiri ketika itu diberi
nama Nasakom.. Tambahan lagi Marxisme, yang merupakan salah satu pandangan
dan aliran politik yang kongkrit ada dan punya pengaruh yang tidak kecil di
Indonesia, telah dilarang dan ditindas sedemikian rupa oleh rezim Suharto.
TAP MPRS No. XXV, 1966, yang bagaikan pisau belati yang menghunjam ke
ulu-hati usaha mempersatukan bangsa, merupakan monumen cacad yang memalukan
dalam sejarah perkembangan negara Indonesia menuju suatu 'rechtsstaat',
tidak bisa dibiarkan bercokol terus dalam kehidupan kita bernegara yang
demokratis.
Dewasa ini tulisan Bung Karno itu sesungguhnya masih relevan. Kenyataannya
ialah bahwa di negeri kita, di dalam masyarakat kita, tetap masih ada
kekuatan sosial-politik yang didasarkan atas pandangan Nasionalisme yang
sehat. Masih tetap ada kekuatan sosial-politik yang berorientasi pada
Islamisme. Di dalam masyarakat kita sekarang ini, meskipun Orba berusaha
untuk menindas dan membungkamnya, masih tetap ada kekuatan sosial-politik
yang berorientasi pada Marxisme dan/atau pandangan dan teori yang Kiri
lainnya. Selama masih ada penindasan dan pemerasan , selama kapitalisme dan
imperialisme masih ada dan melakukan praktek pemerasan dan penindasan
terhadap sebagian besar umat manusia, selama itu masih akan ada perlawanan.
Selama ada perjuangan terhadap penindasan dan penghisapan, selama itu
fikiran Marxis dan fikiran Kiri lainnya, yang memperjuangkan keadilan sosial
dan penghapusan penghisapan oleh manusia atas manusia lainnya, akan tetap
ada, bahkan berkembang dan bertambah besar.
Di banyak negeri di dunia dewasa ini, pandangan-pandangan Kiri dimana ajaran
Marx memainkan peranan sebagai pendorong dan pemberi inspirasi, sebagai
suatu cara dan metode menganalisa keadaan masyarakat, politik, ekonomi dan
kekuasaan, tidak punah. Masih tetap eksis, dan organisasi-organisasi sosial
dan parpol-parpol yang berorientasi pada pandangan-pandangan Kiri tsb tidak
sedikit yang memperoleh kepercayaan rakyat. Karena parpol-parpol dan
organisasi-organiasi tsb menitik beratkan usaha kegiatannya pada perbaikan
nasib rakyat yang luas, khususnya di bidang perumahan rakyat, pendidikan,
kesehatan masyarakat, serta usaha penghapusan pengangguran serta
ditegakkannya lembaga jaminan sosial yang adil, khususnya bagi rakyat kecil.
Mengkhayati kehidupan dan perjuangan rakyat kita di waktu yang lampau dan
dewasa ini, serta menyaksikan kekuatan-kekuatan sosial politik yang terlibat
di dalamnya, tidaklah salah untuk menarik kesimpulan bahwa persatuan
diantara semua kekuatan sosial-politik yang memperjuangkan penghapsan
penindasan dan penghisapan itu, diperlukan untuk bisa tercapainya tujuan
tsb. Dari sini bisa difahami mengapa diperjuangkannya kerjasama dan
persatuan antara kekuatan sosial-politik yang di dasarkan atas Nasionalisme,
Islamisme, Marxisme dan pandangan Kiri lainnya, adalah tetap merupakan
agenda yang mendesak bagi bangsa kita.
************
Ibrahim Isa
Amsterdam
* * * *
Back
Forward