Nasional
NO. 13/XXX/28 Mei - 3 Juni 2001
S
eorang perempuan mengaku anak Bung Karno dan ahli waris
sebidang tanah di dekat kompleks Istana. Mengapa Presiden Abdurrahman ikut mengurus pembebasan tanah itu?
SEKRETARIS Negara Djohan Effendi bukan main bingungnya belakangan ini. Soal dekrit? Bukan. Ini lebih "membingungkan" Djohan. Kata seorang kalangan dekat Istana, sudah dua bulan ini ia terus didesak Presiden Abdurrahman
Wahid agar meneken keputusan tentang status tanah seluas 1.600 meter. Tanah itu letaknya
di Jalan Veteran III, Jakarta, di seberang kantor Sekretariat Negara (Setneg). Nilainya
menggiurkan, Rp 35 miliar lebih, dengan harga pasaran sekarang. Bagian lain tanah itu
tengah dibebaskan Setneg.
Yang membuat Djohan pusing tujuh keliling, Abdurrahman mengatakan bahwa tanah
itu sebenarnya milik Bung Karno. Untuk itu, ia minta supaya proses pembebasan tanah
oleh Setneg disetop. Buat apa? Presiden akan menyerahkan tanah itu kepada ahli waris
yang sah. Siapa? Guntur, Mega, Rachma, Sukma, Guruh, Bayu, atau Kartika? Bukan. Nama
"ahli waris" Bung Karno itu Utpala Devi alias Tjoe Ai Wan, seorang perempuan
Tionghoa berusia 51 tahun yang belakangan kerap bertemu dengan Presiden. Lebih mengherankan lagi,
Abdurrahman juga memerintahkan Djohan supaya kepemilikan tanah itu terlebih dulu dialihkan atas
nama pribadi seorang pejabat tinggi Republik. Djohan menolak. Soalnya, status tanah itu jelas milik negara.
Ini kasus rumit sejak 1986. Lokasi itu adalah perumahan eks tentara Koninklijke
Nederlands Indisch Leger (KNIL) yang dibebaskan Setneg. Dari 8.100 meter persegi, tinggal
1.600 meter yang belum selesai diurus. Di sana berdiri dua bangunan lapuk peninggalan Belanda
yang dihuni 11 keluarga keturunan tentara KNIL berdarah Maluku. Mereka bukan pemilik tanah,
tapi hanya menetap berdasarkan surat izin pakai yang dikeluarkan pemerintah Belanda. Izin tadi
kemudian diperbarui dengan surat izin penghunian dari pemerintah daerah Jakarta.
Proses pembebasan sebetulnya hampir rampung. Pada 18 Januari 2001, Setneg
sudah memberi tahu bahwa uang ganti rugi segera dikeluarkan. Besarnya Rp 2,7 juta per
meter persegi. Pembayaran ditetapkan tanggal 19 Maret 2001.
Tapi, pada 14 Maret, tiba-tiba Presiden bertandang ke rumah Ary Loupatty, penghuni
Jalan Veteran 7. Ia dituntun seorang wanita yang tak lain adalah Utpala Devi dan suaminya,
Nur Anam Effendi. "Karena becek, Gus Dur sempat hampir kepeleset," kata Gina
Luhulima, salah seorang penghuni. Setelah Presiden pulang, Devi lantas mengumbar cerita.
"Dia bilang, dia anak Bung Karno ketika menjalani pembuangan di Pulau Bangka," kata
Ary Loupatty.
Bukan cuma itu, Devi bahkan mengobral janji akan memberi dana kompensasi di
atas tawaran Setneg. Jumlahnya Rp 3,5 juta per meter dan akan dicairkan sebelum Presiden
melawat ke Australia, 4 April lalu. Total dana Rp 5,6 miliar. Tentu saja tawaran itu disambut
suka cita. Para penghuni serentak meneken surat kuasa kepada Devi.
Pada 25 Maret, untuk kedua kalinya, Presiden datang bertandang. Kali ini ke rumah
nomor 7A. Selain ditemani Devi dan suaminya, juga ada seorang pria tua bernama Ir. Gde
Soenarjo, yang dikenalkan Devi sebagai adik Bung Karno, dan seorang lelaki lain yang ia bilang
adalah penyandang dana berkebangsaan Malaysia. Ketika itulah, Gina mendengar Presiden bilang
supaya semua surat menyangkut tanah ini tidak lagi diproses melalui Setneg, tapi
lewat Sekretaris Militer Presiden atau via Jalan Irian 7rumah Haji Masnuh.
Belakangan para penghuni mencurigai niat Devi. Tunggu punya tunggu, dana yang
dijanjikannya tak kunjung cair. Maka, sebagian dari mereka mencabut surat kuasa.
"Kami tidak mau berurusan dengan Devi lagi," kata Gina. Tapi Devi malah mengembalikannya,
sembari membubuhkan catatan, "Saya terima untuk dirundingkan dengan Bapak Presiden K.H.
Abdurrahman Wahid." Sepekan kemudian, pada 11 April, kembali Presiden datang berkunjung.
Bagaimana penyelesaiannya, masih tak jelas hingga kini.
Meski tak bersedia memberikan penjelasan gamblang, ketika dikonfirmasi, Sekretaris
Negara Djohan Effendi tak menyangkalnya. Cuma, ia membantah telah diperintah
Presiden agar segera mengalihkan kepemilikan tanah itu. "Saya cuma diminta mengecek duduk
perkara sebenarnya," katanya. Adapun Kepala Biro Umum Sekretariat Negara, Taufik Sukasa,
mengatakan, "Mendengar Presiden sudah datang langsung ke sana, proses (pembebasannya) ya
langsung kami hentikan."
Tapi juru bicara kepresidenan, Yahya C. Staquf, meski mengaku tak tahu pasti,
membantah keterlibatan Presiden dalam pengambilalihan tanah di Jalan Veteran itu. Ia juga
mengaku tak mengenal Devi.
Ditemui TEMPO, Devi tenang saja mengakui semuanya. "Saya cuma ingin
membantu para penghuni yang selalu dipersulit orang-orang Setneg," katanya.
Sejatinya, Devi sama sekali bukan sosok yang istimewa. Ia dan suaminya,
Nurul Anamlelaki keturunan Arab asal Jombangcuma pedagang barang antik yang jauh
dari kesan berduit. Rumah sempit dan kusam, di sebuah gang sempit di Pademangan, satu
kawasan pecinan Jakarta. Selokan di depannya selalu mampat dan meluapkan kotoran tiap
kali hujan datang. Sulit membayangkan ia mampu menyediakan dana miliaran rupiah. "Gus
Dur bilang, uangnya nanti akan ia pinjam dulu dari teman-temannya pengusaha. Baru nanti
saya ganti," kata Devi enteng. Entah benar entah tidak, ia bahkan hakul yakin urusannya
bakal segera beres. "Tadi pagi (Jumat lalu), Gus Dur menelepon. Dia bilang sudah memanggil
Djohan Effendi untuk segera mengurus penyerahannya ke saya," katanya.
Menurut Devi, kisah ini berawal dari niatnya mencarikan rumah untuk Abdurrahman,
sesaat setelah dilantik menjadi presiden, "Katanya Gus Dur lagi mencari rumah dekat Istana."
Kebetulan kantor paman Devi bertempat di Veteran III. Ketika berkunjung ke sana, Devi
diberi tahu bahwa tanah itu sebenarnya milik Bung Karno, hibah dari Mangkunegaran.
Cuma, anehnya, hingga kini Devi mengaku belum pernah melihat selembar dokumen pun
yang bisa membuktikannya. Katanya, surat bukti kepemilikan itu dipegang seorang dukun
ternama di Bogor berinisial YS.
Satu-satunya yang "istimewa" adalah keyakinannya sebagai anak kandung Bung Karno itu.
Dengarlah dongengnya. Ibunya, Foe Ngiat Liong alias Milya Syarief, adalah istri sah Sukarno,
presiden pertama Republik. Mereka bertemu di Pangkalpinang, ketika Bung Karno menjalani hukuman pembuangan.
Tanggal kelahirannya bahkan sama persis dengan Megawati, 23 Januari 1947. "Bedanya, Mega
malam, saya pagi," katanya. Pada 1958, Devi diboyong ibunya pindah ke Jakarta. Mereka tinggal
di Kebonjahe Gang 6 (sekarang dekat Budi Kemuliaan). Nyonya Ngiat sendiri meninggal pada 1990 lampau.
Ada buktinya? Tak satu pun. Jangankan surat lahir, Devi bahkan mengaku tak pernah
diberi tahu ibunya soal status istimewanya itu. "Soalnya, hubungan ibu saya dengan Bung Karno
itu ditutupi," dalihnya. Dari siapa "rahasia" itu terbongkar? Masih kata Devi
Anda boleh percaya boleh tidakia diberi tahu dua paranormal ternama asal Solo dan
Banten yang mendapat pesan gaib dari langit. Yang luar biasa berat diterima akal, ia bahkan meyakini
Bung Karno masih hidup. Ia juga mengaku cucu Paku Buwono X sekaligus keponakan Tien Soeharto.
Devi jelas sangat terobsesi dengan dunia mistik, seperti Suwondoaktor skandal
dana Bulog Rp 35 miliar yang juga berdagang barang antik dan gandrung akan klenik. Soal
alam gaiblah yang mempertemukan Devi dengan Abdurrahman. Itu terjadi Januari 1998
silam, ketika sang Ketua Umum Nahdlatul Ulama terserang stroke. Devi datang membesuk,
diajak suaminya yang sudah lebih dulu mengenal Abdurrahman. Devi lalu memintakan obat dari Romo
Tunggul Panuntun, paranormal ternama sekaligus pengusaha hotel kaya yang
tinggal di Klaten, Jawa Tengah. Bukan sembarang obat, Romo memberikan ramuan khusus
dari daun benalu cengkeh. Setelah meminumnya, kata Devi, Abdurrahman merasakan
khasiatnya. Dan sejak itulah Devi menjadi semacam penghubung Abdurrahman ke Romo Tunggul.
Devi juga mengaku mendampingi Abdurrahman ketika diruwat (upacara tolak bala)
di Pantai Parangkusumo, Parangtritis, Yogyakarta, 28-29 Juni tahun lalu. Ritual ini juga
dipimpin oleh Romo Tunggul Panuntun. Ketika itu pemilu baru saja usai dan Abdurrahman
tengah bersiap maju ke pentas pemilihan presiden.
Kedekatannya dengan Presiden Abdurrahman tampak dari dua foto yang tergantung
di rumahnya. Yang satu tampak dia bersama Abdurrahman dan Al Zastrouw (mantan
"asisten pribadi" Gus Dur) di rumah Romo Tunggul. Di balik foto tertera tanggal 18 Maret
1999. Satu foto lagi, ketika ia mengantar Presiden berkunjung ke rumah Veteran 7A baru-baru ini.
Kasus ini sarat tanda tanya. Misalnya, mengapa mudah saja Presiden
Abdurrahman mempercayai "dongeng berbau kemenyan" ini? Kenapa pula ia repot-repot turun
tangan menangani urusan pembebasan tanah? Tanpa dukungan dokumen otentik apa pun,
bagaimana mungkin tanah berstatus milik negara lantas dialihkan begitu saja kepada
perseorangan yang asal-usulnya belum jelas?
Rachmawati, putri asli Bung Karno, bahkan terheran-heran ketika dimintai konfirmasi.
Ia sangat yakin, tak satu pun anggota keluarganya bernama Devi atau Ai Wan atau siapa pun
dengan ciri-ciri itu. Begitupun soal tanah di Jalan Veteran. Ia juga tambah bingung kenapa kali
ini Istana tak mengecek ke pihaknya terlebih dahulu, seperti dalam banyak kasus serupa
sebelumnya. "Keluarga besar Bung Karno ya segitu itu," katanya.
Sanggahan juga segera datang dari K.R.Ay. Hilmiyah Darmawan Pontjowolo, cucu
Mangkunegoro VII, yang kini menjabat sekretaris Rekso Budoyo Istanaperpustakaan
yang menghimpun data kekayaan milik Mangkunegaran. Menurut dia, semua aset keraton
Solo ini telah dibukukan pada 1950. "Sama sekali tidak ada tanah milik Mangkunegaran di
Jalan Veteran," katanya kepada Syaiful Amin dari TEMPO.
Devi sendiri, ketika dihubungi kembali soal itu, seperti kebingungan. "Mungkin
bukan Mangkunegaran, pokoknya keratonlah," katanya pendek.
Di balik ini semua, rupanya diam-diam ada "proyek" besar: perburuan harta
Sukarnoyang mungkin hanya mitos. Dalam urusan ini ada keterlibatan seseorang yang disebut
Devi sebagai Mayjen CPM (Purn.) Ir. Gde Soenarjo. Kata Devi, "Dia itu om saya, adik Bapak
(Bung KarnoRed.)." Soenarjo jugalah yang ikut meyakinkan dirinya sebagai keturunan Sukarno.
Tak jelas siapa sebenarnya lelaki berusia sekitar 70 tahun ini. TEMPO tak berhasil
menemuinya. Devi tak bersedia memberikan nomor kontak atau alamatnya, kecuali
sepotong info bahwa ia tinggal di kawasan Cipete, Jakarta. "Nanti saya dimarahi, orangnya
galak," alasan Devi.
Menurut Devi, setelah tanah dibebaskan, di Veteran akan didirikan yayasan untuk
mengurus aset Bung Karno, namanya Yayasan Satria Bakti Kemanusiaan. Presiden
Abdurrahman duduk sebagai pendiri, dan Soenarjo adalah salah satu orang yang dipercaya Abdurrahman
untuk memburu harta Sukarno. "Om Soenarjo itu yang mengurus harta Bapak (Bung
Karno) di luar negeri," kata Devi.
Seorang pejabat Istana membenarkannya. Soenarjo telah beberapa kali bertemu
Presiden dan menunjukkan berbagai sertifikat tanah, rekening, dan simpanan emas atas nama Bung
Karno di luar negeri. "Susah, kami sudah bilang itu nonsens, tapi kalau Presiden percaya,
mau bilang apa?" kata sang pejabat. Pertemuan Soenarjo dengan Devi pun berawal dari
urusan ini. Adalah Devi yang membukakan pintu Istana saat Soenarjo membicarakan misteri
harta karun ini dengan Presiden.
Nama Soenarjo juga pernah disinggung majalah Far Eastern Economic Review, September lalu,
dalam kaitannya dengan perburuan harta ini. Pada 6 Juni tahun lalu, Soenarjo
dikabarkan mengontak kedutaan RI di AS untuk melegalisir surat keterangan dari
Presiden untuknya, untuk digunakan di Amerika. Dalam surat itu, ia disebut sebagai asisten khusus
Presiden yang ditugasi mencairkan harta negara di sejumlah negara Eropa. Pada bulan yang
sama, menurut sumber Far Eastern yang dekat dengan keluarga Abdurrahman, seorang
pejabat Biro Penyelidik Federal AS (FBI) khusus bertemu dengan Presiden Abdurrahman
di New York dan menjelaskan bahwa surat itu telah disalahgunakan.
Mudah-mudahan kita semua tidak sedang menyaksikan episode lanjutan dari lakon
Suwondo yang belum lagi usai itu.
Karaniya Dharmasaputra, Tomi Lebang