 |
| MEMPERINGATI HUT KE 100 BUNG KARNO |
|
BUNG KARNO SEBAGAI PEMERSATU BANGSA
DAN OBOR PERJUANGAN RAKYAT
Oleh :A. Umar Said
Renungan dan catatan tentang BUNG KARNO (1)
(Sebagai ganti kata pengantar : Mengapa Bung Karno perlu “diangkat” kembali
pada tempatnya yang semestinya? Apakah ada gunanya bagi bangsa kita, dewasa
ini dan juga untuk selanjutnya, mengenang kembali dan mempelajari segala
persoalan yang bekaitan dengannya? Apakah artinya Bung Karno bagi perjuangan
bangsa Indonesia? Apakah ajaran-ajaran Bung Karno masih perlu dijadikan
bahan pemikiran? Apakah Bung Karno itu berhaluan “kiri”? Mengapa Bung Karno
mencetuskan gagasan NAS-A-KOM? Mengapa Bung Karno telah digulingkan dari
kedudukannya sebagai presiden? Marhaenisme itu sebenarnya apa? Mengapa Bung
Karno dimusuhi oleh kekuatan-kekuatan pro-imperialisme dan kolonialisme? Apa
sajakah akibat digulingkannya Bung Karno bagi kehidupan bangsa dan negara
kita? Mengapa Bung Karno dicintai rakyat? Di mana sajakah perbedaan antara
Bung Karno dan Suharto?)
* * *
Dalam rangka peringatan 100 Tahun Bung Karno, yang akan dirayakan dalam
bulan Juni yad, akhir-akhir ini telah mulai bermunculan di berbagai tempat
di negeri kita beraneka ragam Panitia atau Komite yang sudah mulai
mengadakan kegiatan-kegiatan untuk menyambut peristiwa penting ini.
Tulisan-tulisan sudah mulai muncul dan ceramah atau diskusi juga sudah mulai
diadakan, dan, menurut informasi dari banyak fihak, berbagai acara juga
sedang dipersiapkan. Ini semua merupakan pertanda yang baik, terutama kalau
dihubungkan dengan situasi negeri kita akhir-akhir ini.
Kalau kita renungkan dalam-dalam dan dengan fikiran jernih pula, maka kita
bisa melihat betapa pentingnya bagi bangsa kita, sekarang ini, menggunakan
kesempatan ini untuk - secara bersama-sama - mengkaji kembali peran Bung
Karno dalam sejarah bangsa Indonesia, perjuangannya, dan juga sumbangan dan
jasa-jasanya yang besar bagi lahirnya Republik Indonesia.
Pada dewasa ini, menelaah kembali sejarah dan perjuangan Bung Karno, dan
mencoba mendalami ajaran-ajarannya atau berusaha menghayati cita-citanya
serta berbagai konsepsinya bisalah merupakan sumbangan untuk bisa melihat,
dengan gamblang sekali, betapa jauhnya perbedaan antara Bung Karno dengan
“pemimpin-pemimpin” kita dewasa ini. Perbedaan ini nampak jelas sekali dalam
kebesaran gagasan-gagasannya mengenai persatuan bangsa, dalam keagungan
kecintaannya kepada negara dan revolusi, dalam kecermelangan fikirannya
sehingga bangsa Indonesia menjadi terhormat di pergaulan internasional
antara bangsa-bangsa, dan dalam ketulusannya mengabdi kepada rakyat.
Apakah itu semuanya diketahui oleh generasi muda negeri kita dewasa ini ?
Dan kalaupun mereka ketahui, sampai di manakah mereka bisa memahaminya atau
menghayatinya? Bagi banyak orang, terutama bagi mereka yang pernah ikut
berjuang secara aktif dalam membela kepentingan rakyat dan Republik
Indonesia sampai tahun 1965, adalah satu hal yang jelas: Bung Karno adalah
pemimpin besar bangsa, tokoh pemersatu rakyat yang terdiri dari berbagai
suku dan keturunan, yang tinggal dari Sabang sampai Merauke.
Bung Karno, penyambung lidah rakyat Indonesia, adalah seorang yang pernah
menjadikan nama negerinya begitu harum di kalangan rakyat-rakyat
Asia-Afrika-Amerika Latin. Bung Karno adalah seorang pemimpin rakyat, yang
pernah membikin orang Indonesia menjadi bangga atas ke-Indonesiaannya. Ini
berbeda dengan pengalaman banyak orang selama puluhan tahun belakangan ini,
yang merasa malu menjadi bangsa Indonesia, berhubung banyaknya hujatan dunia
internasional terhadap berbagai praktek buruk rezim Orde Baru/Golkar. Bagi
mereka yang pernah berkecimpung secara aktif dan luas di pergaulan
internasional, jelaslah bahwa revolusi Indonesia dan Bung Karnonya pernah
menjadi sumber inspirasi bagi bangsa-bangsa lainnya, terutama yang waktu itu
sedang berjuang melawan imperialisme dan kolonialisme.
Sekarang ini, kita sama-sama merasakan bahwa persatuan bangsa sedang
dicabik-cabik oleh berbagai rasa permusuhan antar-golongan, antar-etnis,
antar-agama, dan sedang terancam oleh bahaya separatisme. Sejak puluhan
tahun, negeri kita telah terpuruk namanya di dunia internasional oleh karena
korupsi yang merajalela di seluruh bidang kehidupan dan pelanggaran HAM
secara besar-besaran (yang merupakan akibat-akibat serius politik Orde
Baru/Golkar selama puluhan tahun dan yang sekarang diwariskan kepada kita
semua!!!). Mengingat itu semuanya, maka perlu sekalilah kita sadari
bersama bahwa segala macam usaha untuk mengenang dan mempelajari kembali
gagasan-gagasan Bung Karno mempunyai arti yang penting sekali bagi bangsa
kita dewasa ini.
KITA HARUS BERANI BICARA TENTANG BUNG KARNO
Mengingat pentingnya kedudukan Bung Karno dalam sejarah perjuangan bangsa
Indonesia, maka agaknya sudah tepatlah bahwa berbagai panitia atau forum
(atau segala macam badan lainnya) telah dan sedang mengadakan berbagai
kegiatan untuk memperingati 100 Tahun Bung Karno. Makin banyak jumlahnya,
makin banyak ragam kegiatannya, makin luas pesertanya, dan makin banyak
persoalan yang diangkatnya, maka itu semua akan membikin makin besarnya
sumbangan kepada pendidikan politik (dan moral!) bagi bangsa. Terutama
kepada generasi muda kita dewasa ini, dan juga kepada generasi yang akan
datang.
Sesudah jatuhnya Orde Baru (betul, memang belum 100%!), adalah kewajiban
kita bersama untuk mengangkat kembali Bung Karno kepada tempatnya yang
layak, atau yang semestinya, sebagai pelopor kemerdekaan, dan sebagai
pemimpin besar bangsa. Mendudukkan kembali Bung Karno pada tempat yang
sesuai dengan haknya yang sah adalah perlu sekali. Sebab, sudah selama lebih
dari 32 tahun namanya telah dicemarkan, penyebaran fikiran-fikirannya
dipersulit, sejarahnya dipotong-potong oleh rezim Orde Baru/Golkar.
Kasarnya, sejarah Bung Karno beserta ajaran-ajarannya (dan jasa-jasanya)
telah diusahakan “dikubur” selama itu.
Pengalaman selama lebih dari 32 tahun Orde Baru/Golkar (harap diperhatikan
bahwa kedua kata itu disini dijadikan satu!) membuktikan bahwa Orde
Baru/Golkar pada hakekatnya, atau pada dasarnya, telah menjadikan Bung Karno
sebagai musuh politiknya. Dan ini wajar. Sebab, kalau menelaah kembali latar
belakang peristiwa 1965, dan juga sejarah berdirinya Orde Baru/Golkar, maka
jelaslah bahwa sejak itulah muncul permusuhan atau perbenturan antara
politik Bung Karno dan para pendiri rezim Orde Baru/Golkar. Bahkan, sejak
jauh sebelumnya. (Tentang soal ini, bisa ditulis lain kali).
Oleh karena itulah, maka, sekarang ini, bagi semua kekuatan pro-demokrasi
dan pro-reformasi, perlu sekali untuk makin berani berbicara tentang Bung
Karno dan berusaha mengangkatnya kembali pada tempatnya yang selayaknya.
Tugas ini adalah tugas besar kita semuanya, tanpa memandang sekat-sekat
agama, suku atau grup etnis, ras, ideologi, atau komponen masyarakat. Bung
Karno adalah milik bangsa, dan bukan hanya milik segolongan atau beberapa
golongan saja.
Di bawah kepemimpinan Bung Karno, rakyat Indonesia pernah secara gemilang
dipersatukan dalam memperjuangkan kemerdekaan nasional dan juga dalam
mendirikan negara Republik Indonesia (sampai 1965). Di bawah
kepemimpinannya, kerukunan berbagai suku, agama, dan golongan-golongan dalam
masyarakat, nampak sekalilah bedanya dengan apa yang terjadi sekarang ini.
Di bawah kepemimpinannya, terasa benar bagi rakyat Indonesia betapa besar
artinya lambang Bhinnkeka Tunggal Ika, betapa mendalamnya penghayatan sumpah
Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa. Juga selama kepemimpinannyalah,
Pancasila betul-betul menjadi pedoman politik, ekonomi, sosial, dan moral
bagi bangsa kita secara keseluruhan.
SEGI POSITIF AJARAN/POLTIK BUNG KARNO
Mengingat itu semuanya, maka makin terasalah betapa pentingnya, dewasa ini,
ketika bangsa dan negara kita seperti kehilangan arah, atau seperti
kebingungan dalam mencari pegangan, untuk mengenang kembali sejarah,
jasa-jasa, dan ajaran-ajaran Bung Karno. Dengan bersama-sama mengungkapkan
sebanyak mungkin, dan juga seluas mungkin, berbagai aspek yang berkaitan
dengan Bung Karno, maka akan nyatalah bahwa apa yang terjadi sejak
digulingkannya dari kedudukannya sebagai presiden/kepala negara, maka
perjuangan bangsa dan rakyat Indonesia menuju cita-cita masyarakat yang adil
dan makmur telah mengalami kemunduran-kemunduran yang besar atau dahsyat
sekali.
Wajarlah kiranya, bahwa dalam usaha bersama kita untuk mendudukkan kembali
Bung Karno pada tempat yang selayaknya dalam sejarah bangsa Indonesia,
terdengar suara-suara atau pendapat-pendapat yang serba negatif, yang datang
dari fihak-fihak yang selama ini memang menentang politik Bung Karno, atau
dari fihak-fihak yang mendukung Orde Baru/Golkar. Dan, wajar jugalah
kiranya, bahwa muncul juga pendapat yang yang kritis terhadap kesalahan atau
kekurangan Bung Karno, tanpa menghilangkan jasa-jasanya yang besar kepada
bangsa dan tanpa membuang ajaran-ajarannya yang positif.
Dalam rangka Peringatan 100 Tahun Bung Karno, itu semua akan berguna bagi
pendidikan politik bangsa, baik yang generasi kita sekarang maupun generasi
kita yang akan datang. Tetapi, perlulah agaknya dimengerti juga, bahwa dalam
rangka berbagai kegiatan “Peringatan” ini banyak orang menggunakan
kesempatan ini untuk mengangkat berbagai aspek sejarah dan ajaran-ajaran
positif Bung Karno. Menyebarluaskan segi-segi positif fikiran atau ajaran
Bung Karno adalah benar, dan juga perlu!. Apalagi, kalau mengingat situasi
negeri kita dewasa ini (!!!), maka makin terasalah bahwa mengangkat kembali
kebesaran fikiran-fikirannya akan merupakan sumbangan penting untuk
memperkaya pandangan banyak orang dalam menghadapi berbagai persoalan pelik
dewasa ini...
Setelah sama-sama mengalami sendiri politik rezim Orde Baru/Golkar selama
puluhan tahun, maka kita semuanya melihat bahwa politik Bung Karno di
berbagai bidang adalah sama sekali bertolak belakang dengan politik Orde
Baru/Golkar. Dan sebagai hasilnya, kita lihatlah sekarang ini betapa
hebatnya kebobrokan moral (yang parah sekali), yang termanifestasikan dalam
kerusakan-kerusakan serius di bidang politik, ekonomi, sosial, kebudayaan,
yang diwariskan oleh rezim Suharto dkk. Kebobrokan moral yang parah ini,
terutama sekali, telah melanda kalangan atas dan menengah bidang eksekutif,
legislatif, dan judikatif. Kalau kita renungkan dalam-dalam, maka akan nyata
bahwa kebobrokan moral inilah salah satu di antara sumber-sumber banyaknya
persoalan rumit dewasa ini.
BUNG KARNO DICINTAI RAKYAT
Sejarah telah mencatat bahwa rakyat Indonesia memang mencintai dan mengagumi
Bung Karno ketika beliau masih hidup (harap perhatian, bahwa di bagian ini
kata “beliau” memang sengaja dipakai). Bahkan, sesudah beliau sudah wafat
pun (21 Juni 1970) rakyat masih tetap menunjukkan kecintaan atau penghargaan
terhadap beliau. Ini kelihatan dari begitu banyaknya orang yang menjenguk
jenazah beliau di Jakarta dan juga ketika beliau dimakamkan di Blitar.
Padahal, waktu itu beliau sudah dikucilkan dari kehidupan politik. Bukan
saja beliau sudah digulingkan oleh para pendiri rezim Orde Baru, bahkan juga
disiksa secara mental. Kampanye (terbuka dan terselubung) untuk
de-Sukarnoisasi sudah dilancarkan secara intensif dan luas.
Kampanye de-Sukarnoisasi yang berjalan selama 30 tahun memang luar biasa
dampaknya!. Orde Baru telah menggunakan segala cara (indoktrinasi,
manipulasi fakta sejarah, intimidasi secara halus, dan segala bentuk
rekayasa lainnya) untuk menghancurkan pengaruh ajaran-ajaran dan berbagai
konsepsi politik Bung Karno. Ini bisa dimengerti. Sebab, para pendiri Orde
Baru/Golkar memang berkepentingan sekali terhadap hilangnya Sukarno-isme
dari bumi Indonesia. Sebagai halnya dengan komunisme, nyatalah bahwa
Sukarnoisme telah dianggap sebagai bahaya besar bagi kelangsungan hidup
Orde Baru/Golkar.
Dampak yang besar kampanye de-Sukarnoissasi itu kelihatan dari hilangnya
buku-buku yang berisi ajaran-ajaran beliau dari toko-toko buku, atau dari
ketakutannya banyak orang untuk memasang gambar Bung Karno di rumah-rumah
penduduk. Dalam jangka lama, banyak sekali orang yang hanya berani
berbisik-bisik antara teman, kalau berbicara tentang Bung Karno. Kata-kata
Marhaeinisme, gotong-royong, revolusi, ekonomi berdikari, sosialisme
kerakyatan Indonesia, makin lama makin menghilang dari percakapan
sehari-hari. Anak-anak muda yang belajar sejak dari sekolah dasar sampai
perguruan tinggi mengenal nama Sukarno secara terbatas sekali, dan itupun
sering diiringi oleh penjabaran yang bernuansa negatif. Sebab, buku-buku
sekolah tentang pelajaran sejarah telah “digiring” ke arah de-Sukarnoisasi.
Memang, karena terpaksa, atau karena karena perhitungan politis, atau juga
sekedar sebagai “pupur” (atau karena “gabungan” itu semua!!!) rezim Orde
Baru telah memberikan gelar Pahlawan Proklamator kepada Bung Karno. Makam
beliau di Blitar pun telah dibangun dengan tanda peringatan yang
mencantumkan nama Suharto. Dan, yang juga menyolok adalah penamaan
bandar-udara Cengkareng dengan nama Bandar Udara Sukarno-Hatta. Di samping
itu, dalam setiap upacara hari proklamasi 17 Agustus putera-puteri Bung
Karno juga diundang untuk menghadirinya. Tetapi, itu semua tidak bisa
membantah kenyataan sejarah lainnya bahwa Orde Baru/Golkar telah
“meng-kudeta” bung Karno dan sekaligus juga membunuh ajaran-ajaran beliau.
Namun, berbagai kenyataan menunjukkan bahwa kecintaan rakyat terhadap Bung
Karno tidak gampang ditumpas begitu saja. Selama puluhan tahun, makam Bung
Karno di Blitar selalu dikunjungi oleh banyak orang, yang terdiri dari
berbagai suku, agama, ras, lapangan profesional, atau keyakinan politik.
Kemenangan PDI-P dalam pemilihan umum tahun 1999 ada juga kaitannya dengan
faktor kecintaan rakyat kepada Bung Karno, yang dimanifestasikan dengan
memilih fihak Megawati Sukarnoputri. Sekarang ini foto-foto Bung Karno
dijual di mana-mana dan juga kembali menghiasi dinding banyak rumah penduduk
SEMEN PERSATUAN DAN OBOR SEMANGAT PERJUANGAN
Sampai menjelang akhir hidupnya, Bung Karno adalah semen persatuan bangsa,
yang terdiri dari begitu banyak suku, agama, asal keturunan, dan
adat-istiadat. Kemudian, kita menyaksikan bahwa sejak hilangnya Bung Karno,
maka Indonesia seolah-olah kehilangan semen yang bisa memperkokoh rasa
persatuan dan kerukunan bangsa ini. Agaknya, tidak perlulah
direntang-panjangkan lagi di sini, bahwa “persatuan” atau “kesatuan” yang
pernah dibangga-banggakan selama puluhan oleh Orde Baru/Golkar adalah
sebenarnya persatuan yang semu dan kesatuan yang rapuh. Persatuan bangsa dan
kesatuan negara di bawah Orde Baru/Golkar adalah persatuan yang dipaksakan
oleh ujung bayonet. Tegasnya, adalah sebenarnya hanya persatuan semu dan
kesatuan palsu yang dibangun atas bangkai jutaan manusia yang tidak
bersalah.
Kalau kolonialisme Belanda pernah berhasil memecah-mecah bangsa dan negara
dengan mendirikan negara-negara boneka (negara Sumatera Timur, Sumatera
Selatan, Pasundan, Jawa Timur, Madura, Indonesia Timur) dan berbagai
“daerah otonom” (Riau, Bangka, Belitung, Kalimantan Barat, Dayak Besar,
Banjar, Kalimantan Tenggara, Kalimantan Timur, dan Jawa Tengah) maka melalui
perjuangan nasional di bawah pimpinan Bung Karno, pada akhirnya seluruh
negeri dapat dipersatukan –dengan perasaan kerukunan dan jalan damai - dalam
Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tetapi, semangat persatuan dan kesatuan
ini telah dirusak oleh berbagai kesalahan politik rezim Orde Baru/Golkar
selama puluhan tahun, sehingga bangsa dan negara kita dewasa ini menghadapi
berbagai persoalan rumit dan parah, yang menimbulkan bahaya disintegrasi.
Selama hidupnya, Bung Karno adalah obor semangat kerakyatan dan inspirator
perjuangan bangsa. Bukan saja peran ini telah dimainkan olehnya sejak ia
masih muda sebelum Perang Dunia ke-II, atau selama revolusi 45, melainkan
juga sampai terjadinya peristiwa 1965. Di bawah kepemimpinannya, terasa
sekalilah pada waktu itu bahwa di mana-mana berkobar semangat revolusioner
dan patriotisme di kalangan rakyat untuk menghadapi imperialisme dan
neo-kolonialisme beserta kaki-tangan mereka di dalamnegeri. Semangat
persatuan rakyat demi mempertahankan kedaulatan negara ini nampak nyata
sekali ketika terjadi peristiwa-peristiwa Andi Azis (Makasar) dan Angkatan
Perang Ratu Adil (APRA, Bandung) dalam tahun 1950, yang kemudian disusul
oleh pembrontakan RMS (1950-1963), pembrontakan DI-TII (sampai akhir 1962),
PRRI-Permesta (1958).
Bung Karno adalah pemimpin besar bangsa, yang telah dengan gemilang dapat
berkali-kali menyelamatkan Republik Indonesia dari berbagai gangguan serius
dan bahaya perpecahan. Justru karena keberhasilannya itulah, maka kemudian
musuh-musuh politiknya, baik yang datang dari dalamnegeri maupun luarnegeri,
makin bertekad untuk melenyapkannya dari pucuk pimpinan negara dan bangsa.
Dan, seperti kita sudah ketahui bersama, peristiwa 30 September 1965
(tepatnya : 1 Oktober pagi) adalah permulaan dari serentetan perkembangan
yang kemudian menyeret negeri kita Indonesia memasuki masa gelapnya yang
panjang.
(Tulisan pertama habis di sini).
Paris 24 Maret 2001-03-23
(Catatan : tulisan ini bebas untuk diteruskan kepada siapa saja.
Untuk hubungan E-mail : kontak@club-internet.fr).
* * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Back
Forward