 |
| MEMPERINGATI HUT KE 100 BUNG KARNO |
|
BUNG KARNO ADALAH ORANG BESAR
DI SKALA INTERNASIONAL
Oleh :A. Umar Said
Renungan dan catatan tentang BUNG KARNO (2)
(Sebagai ganti kata pengantar : Mengapa Bung Karno perlu “diangkat” kembali
pada tempatnya yang semestinya? Apakah ada gunanya bagi bangsa kita, dewasa
ini dan juga untuk selanjutnya, mengenang kembali dan mempelajari segala
persoalan yang bekaitan dengannya? Apakah artinya Bung Karno bagi perjuangan
bangsa Indonesia? Apakah ajaran-ajaran Bung Karno masih perlu dijadikan
bahan pemikiran? Apakah Bung Karno itu berhaluan “kiri”? Mengapa Bung Karno
mencetuskan gagasan NAS-A-KOM? Mengapa Bung Karno telah digulingkan dari
kedudukannya sebagai presiden? Marhaenisme itu sebenarnya apa? Mengapa Bung
Karno dimusuhi oleh kekuatan-kekuatan pro-imperialisme dan kolonialisme? Apa
sajakah akibat digulingkannya Bung Karno bagi kehidupan bangsa dan negara
kita? Mengapa Bung Karno dicintai rakyat? Di mana sajakah perbedaan antara
Bung Karno dan Suharto?)
* * *
Dalam rangka Peringatan Peringatan 100 Tahun Bung Karno dapatlah kiranya
diduga bahwa akan terus muncul beraneka-ragam tulisan - atau karya-karya
dalam bentuk lainnya - yang menelaah berbagai aspek tentang tokoh besar
bangsa kita ini, baik yang berkaitan dengan perjuangan bangsa Indonesia
untuk mencapai kemerdekaan maupun perannya sebagai kepala negara dan
pemersatu bangsa. (Termasuk juga beragam analisa atau pendapat tentang
hal-hal yang berkaitan dengan situasi sebelum dan sesudah peristiwa 1
Oktober 1965).
* * *
Tulisan kali ini dimaksudkan sebagai sumbangan untuk bersama-sama
merenungkan kembali peran dan tempat Bung Karno bagi perjuangan rakyat
Asia-Afrika (dan Amerika Latin) waktu itu. Sebab, dalam segi ini jugalah
terletak kebesaran atau keagungan Bung Karno. Mungkin, bagi sebagian
terbesar diplomat tua negeri kita (baik yang sudah mantan, mau pun yang
masih aktif dewasa ini, terutama yang menghayati arti gagasan-gagasan Bung
Karno ) apa yang dikemukakan dalam tulisan kali ini bukanlah sesuatu hal
yang baru. Demikian juga bagi mereka yang pernah aktif dalam berbagai
kegiatan internasional waktu itu. Mungkin mereka masih ingat betapa
tingginya penghargaan rakyat berbagai negeri Asia-Afrika terhadap Bung
Karno. Sampai sekarang pun, nama Bung Karno masih tetap terkenal di kalangan
pimpinan negara maupun gerakan-gerakan rakyat di berbagai negeri.
Oleh karenanya, generasi muda dewasa ini (dan juga yang akan datang) perlu
sekali mengetahui dengan selayaknya akan satu hal, yaitu : bahwa Bung Karno
adalah tokoh besar dalam skala internasional, dan terutama sekali dalam
skala Asia Afrika. Dan, bahwa Bung Karno pernah menjadi bintang, atau
menjadi idola, bagi para gerakan-gerakan progressif di berbagai negeri
Asia-Afrika. Juga, bahwa karenanya, Bung Karno patut menjadi kebanggaan
bangsa kita, baik sekarang mau pun di masa-masa yang akan datang. Kita patut
mengetahui dengan baik bahwa kebesaran gagasan-gagasan Bung Karno tidak
hanya mencakup persoalan-persoalan Indonesia saja, melainkan juga berbagai
persoalan internasional yang terjadi pada masa hidupnya.
Sejarah bangsa kita selama 100 tahun telah makin meyakinkan kita, bahwa
sampai sekarang ini, Bung Karno adalah pemimpin TERBESAR bangsa Indonesia.
Dan, bahwa walaupun mungkin di kemudian hari akan muncul pemimpin-pemimpin
besar lainnya di Indonesia (mudah-mudahan), maka Bung Karno akan tetap
menduduki tempat yang penting dan terhormat dalam sejarah bangsa Indonesia.
Untuk mencegah supaya kita tidak terjerembab dalam pengungkapan-pengungkapan
yang superlatif (berlebih-lebihan, atau serba “paling”), berbagai faktor
sebagai berikut di bawah ini, dapatlah kiranya dipakai bersama sebagai bahan
renungan.
KEBESARAN BUNG KARNO ADALAH SEJAK MUDA
Adalah satu hal yang penting untuk sama-sama kita ingat bahwa kebesaran Bung
Karno tentang berbagai persoalan bangsa - termasuk masalah perjuangan
dalam skala internasional melawan imperialisme dan kolonialisme – adalah
sudah di sandangnya sejak muda. Sejak sekolah menengah (HBS, sekolah
menengah Belanda) Bung Karno sudah tertarik kepada masalah-masalah politik.
Ketika ia “in de kost” di rumah pemimpin Sarekat Islam Haji
O.S.Tjokroaminoto di Surabaia ia sudah bergaul dengan Semaun dan Muso
(mereka berdua ini kemudian menjadi pemimpin PKI), dan mengenal berbagai
tokoh-tokoh perjuangan waktu itu.
Ketika umurnya sudah melewati 20 tahun, ia sudah mulai menulis
artikel-artikel yang mencerminkan sikapnya melawan kolonialisme Belanda
(dengan nama samaran). Setelah tammat belajar di Technische Hooge School
(sekarang ITB) dalam tahun 1925, dan ketika masih berumur 27 tahun, ia
bersama-sama dengan kawan-kawan dekatnya (antara lain : Dr Cipto
Mangunkusumo, Mr. Sartono, Mr Iskaq Cokrohadisuryo, Mr Sunaryo) ia telah
mendirikan Partai Nasional (PNI) pada tanggal 4 Juli 1927. Tujuan PNI adalah
memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Dalam tahun itu juga, pada tanggal 29
Desember 1927, ia telah ditangkap oleh pemerintahan Belanda, dengan tuduhan
melakukan makar. Bung Karno beserta kawan-kawannya dipenjarakan di
Sukamiskin (Bandung), tetapi kemudian mendapat grasi.
Di depan pengadilan Belanda di Bandung, Bung Karno mengucapkan pidato
pembelaan yang berjudul “Indonesia Menggugat”, yang kemudian menjadi sumber
inspirasi perjuangan bagi banyak golongan lainnya waktu itu. Dalam sejarah
perjuangan bangsa Indonesia melawan kolonialisme Belanda, “Indonesia
Menggugat” ini merupakan dokumen penting bangsa. (Adalah baik diketahui
bahwa dalam “Indonesia Menggugat” telah diangkat berbagai masalah
internasional yang penting).
Agaknya, dari segi ini pulalah kita semua bisa menelaah sikap, atau
pandangan, atau politik Bung Karno selama perjuangannya, sampai ketika
menjadi kepala negara. Singkatnya, karena sejak mudanya, ia sudah berjuang
puluhan tahun sebagai nasionalis melawan secara gigih kolonialisme, maka ia
mempunyai simpati yang besar - atau perasaan yang mendalam sekali – terhadap
perjuangan bangsa atau rakyat lainnya di berbagai negeri melawan
kolonialisme dan imperialisme waktu itu. Dan karena sesudah Perang Dunia
ke-II masih banyak negeri-negeri yang masih dijajah atau sedang mempunyai
persoalan-persoalan besar dengan kolonialisme (terutama di Asia dan Afrika),
maka sikap Bung Karno ini juga tercermin dalam banyak tindakan dan
politiknya, sampai menjelang terjadinya peristiwa 1 Oktober 1965 (tentang
soal ini bisa diungkap dalam tulisan tersendiri).
BUNG KARNO ADALAH MUSUH KUBU BARAT
Sekarang, kalau kita menoleh ke belakang, dan memandang persoalan-persoalan
dengan kaca-mata yang bening, maka akan nyatalah bahwa ada berbagai faktor
yang menyebabkan Bung Karno mempunyai sikap yang memihak perjuangan berbagai
negeri dalam melawan kolonialisme dan imperialisme (kasarnya, kubu Barat,
waktu itu). Demikian juga, mengapa ia selalu menganjurkan persatuan bangsa
dan selalu menganjurkan kewaspadaan bangsa akan adanya musuh-musuh yang
membahayakan Republik Indonesia.
Revolusi 17 Agustus 45 dan didirikannya Republik Indonesia adalah pukulan
berat bagi kekuasaan Belanda yang sudah 300 tahun menjajah dan mengeruk
kekayaan Indonesia. Dalam konteks geo-politik waktu itu, adalah jelas sekali
bahwa kekalahan Belanda menimbulkan semacam “solidaritas” di kalangan
kekuatan “kubu Barat”. Itulah sebabnya mengapa Republik Indonesia, sejak
diproklamasikannya oleh Sukarno-Hatta, terus-menerus menjadi sasaran
berbagai aksi-aksi subversi mereka dalam berbagai bidang.
Sejak selesainya Perang Dunia, kubu Barat melihat betapa pentingnya
kedudukan strategis negeri kepulauan Indonesia dalam konteks geo-politik di
benua Asia. Setelah kemenangan revolusi Tiongkok yang dipimpin oleh Mao Tse
Tung dan berdirinya Republik Rakyat Tiongkok (1949),dan kemudian disusul
oleh pecahnya Perang Korea (sampai 1953), maka Amerika Serikat makin
melihat betapa pentingnya bagi kubu Barat untuk berusaha supaya Indonesia
bisa berada difihak Barat. Apalagi, setelah pecahnya perang Indo-Cina, maka
kekuatiran dunia Barat akan terlaksananya “teori domino” menjadi makin
membesar.
Karena itulah, maka mulai 1950-an, Amerika Serikat (dengan dibantu oleh
Belanda dan Inggris) melakukan berbagai “operasi”, baik yang bersifat
subversi maupun beraneka-ragam “intervensi” di berbagai bidang. Apalagi,
dengan kemenangan PKI dalam pemilu tahun 1955, maka kubu Barat (terutama
Amerika Serikat) makin melihat “bahaya” yang terdapat di bumi Indonesia.
“Bahaya” ini termanifestasikan pada sosok Sukarno, seorang nasionalis yang
berhaluan kiri, yang telah menggegerkan dunia dengan terselenggaranya
konferensi Bandung dalam tahun 1955 (tentang soal ini ada catatan
tersendiri).
Berbagai pergolakan politik dan juga pembrontakan bersenjata yang terjadi
berturut-turut sejak zaman revolusi sampai 1965 menunjukkan bahwa berbagai
bahaya selalu mengancam Republik Indonesia dan bahkan juga keselamatan
pribadi Bung Karno sendiri. Sejak 1950 sampai 1965 telah terjadi 7 kali
percobaan pembunuhan terhadap Bung Karno, yaitu : penggranatan di Cikini,
usaha pembunuhan dalam peristiwa Idhul Adha, pembrondongan dari pesawat
udara oleh Maukar, penggranatan di Makassar, pencegatan bersenjata di dekat
gedung Stanvac, pencegatan bersenjata di selatan Gunung Salak,
Percobaan pembunuhan terhadap Bung Karno yang begitu sering dan dalam waktu
yang tidak begitu panjang adalah sesuatu yang jarang terjadi terhadap kepala
negara di dunia. Ini menunjukkan bahwa Bung Karno, yang jelas-jelas
dicintai oleh rakyat karena telah membuktikan dirinya sebagai pejuang
kemerdekaan bangsa selama puluhan tahun, mempunyai cukup banyak musuh, baik
yang datang dari dalam negeri maupun luarnegeri. Pergolakan daerah atau
pembrontakan bersenjata yang terjadi berkali-kali adalah salah satu di
antara berbagai sebab mengapa ia selalu menganjurkan persatuan bangsa dan
mengatakan bahwa revolusi belum selesai (ingat, antara lain : pembrontakan
Andi Azis di Makasar, pembrontakan RMS, pembrontakan DI-TII, pembrontakan
PRRI-Permesta dll).
DI BAWAH BENDERA REVOLUSI
Adalah sangat menarik untuk sama-sama kita telaah, sekarang ini (!), mengapa
Bung Karno selalu berbicara tentang persatuan, atau persatuan revolusioner,
dan juga tentang revolusi, dalam hampir setiap pidatonya. Bagi kita semua
(apalagi bagi generasi muda dewasa ini!) adalah baik sekali untuk membaca
dan merenungkan kembali pidato-pidato atau karya asli Bung Karno, untuk
berusaha mengerti mengapa ia mengambil sikap yang demikian, dalam konteks
situasi dalamnegeri dan situasi internasional WAKTU ITU (mohon perhatian
bahwa dua kata itu digaris-bawahi). Fikirannya tentang perjuangan bangsa dan
gagasannya mengenai pentingnya persatuan ini tercermin dengan jelas dalam
buku “Di bawah Bendera Revolusi”. (tentang buku ini ada cetatan tersendiri).
Terutama sekali, buku DBR (Di bawah Bendera Revolusi) jilid kedua, yang
berisi kumpulan 20 pidato Bung Karno setiap Hari Ulangtahun 17 Agustus,
sejak 1945 sampai 1964 (598 halaman) dengan jelas menggambarkan mengapa ia
begitu “gandrung” (mendambakan sekali, mencintai) kepada persatuan
revolusioner bangsa, dan mengapa ia selalu mengingatkan bahwa revolusi
bangsa belumlah selesai dengan hanya sudah terbentuknya Republik Indonesia.
Pandangannya itu didasarkan pada pengalaman bangsa kita sebelum kemerdekaan,
tetapi juga sesudah berdirinya Republik Indonesia. Bahkan, bukan itu saja.
Bung Karno, dalam konteks internasional waktu itu (!) melihat bahwa apa yang
dialami bangsa Indonesia ada persamaannya dengan bangsa atau rakyat berbagai
negeri, terutama di Asia dan Afrika. Oleh karena itu, Bung Karno menaruh
simpati kepada lahirnya Republik Rakyat Tiongkok, kepada perjuangan rakyat
Vietnam melawan Perancis dan AS, kepada perjuangan rakyat Aljazair melawan
kolonialisme Prancis dll dll. Singkatnya, simpatinya atau dukungannya kepada
rakyat yang sedang berjuang terhadap imperialisme dan kolonialisme adalah
salah satu ciri yang menonjol sekali Bung Karno.
Penghargaan bangsa-bangsa lain terhadap Bung Karno memuncak dengan
diselenggarakannya Konferensi Asia-Afrika di Bandung dalam tahun 1945.
Konferensi Bandung adalah sumbangan yang amat besar kepada banyak rakyat dan
negeri-negeri yang sedang berjuang. Dan, dalam hal ini peran Bung Karno
adalah amat besar (tentang Konferensi Bandung ini ada catatan tersendiri).
Oleh karenanya, sejak itu, nama Soekarno disanjung-sanjung di banyak negeri,
terutama di Asia-Afrika. Bung Karno pernah menjadi kebanggaan banyak orang,
bukan saja di Indonesia, melainkan juga di luarnegeri. (Berdasarkan
pengamatan penulis sendiri, yang pernah menjabat sebagai pengurus Persatuan
Wartawan Asia-Afrika, baik di Jakarta maupun kemudian di Peking, tidak
salahlah kalau dikatakan bahwa Bung Karno pernah menjadi bintang kejora bagi
perjuangan banyak rakyat Asia-Afrika).
TEMPAT BUNG KARNO DI SKALA INTERNASIONAL
Sekarang, mungkin banyak orang yang tidak tahu, bahwa selama di bawah
pimpinan Bung Karno nama Indonesia mendapat tempat yang terhormat dalam
berbagai konferensi internasional atau badan-badan internasional. Terutama
bagi gerakan-gerakan progresif di berbagai negeri yang melawan imperiaslime
dan kolonialisme waktu itu, nama Soekarno dan Indonesia merupakan sumber
inspirasi perjuangan.
Bung Karno adalah salah satu di antara sejumlah kecil pemimpin-pemimpin
Asia-Afrika yang mendorong, membantu, atau bersimpati terhadap lahirnya
berbagai gerakan yang berskala Asia-Afrika. Sikapnya itu mencerminkan bahwa
ia konsisten terhadap prinsip atau tujuan perjuangannya sejak usia-mudanya.
Di samping itu, sikapnya yang demikian itu juga didasarkan pada situasi
kongkrit dan kebutuhan kongkrit yang dihadapi oleh Republik Indonesia
sendiri. Oleh karena itu, ia membantu diselenggarakannya Konferensi
Wartawan Asia-Afrika di Jakarta dalam tahun 1963, yang melahirkan Persatuan
Wartawan Asia-Afrika dan berkedudukan di Jakarta pula (mengenai soal ini
ada catatan tersendiri). Bung Karno juga membantu terselenggaranya di
Indonesia sidang-sidang Konferensi Pengarang Asia-Afrika. (di Bali).
Politik Bung Karno yang menyatukan perjuangan rakyat Indonesia dengan
perjuangan rakyat–rakyat berbagai negeri melawan imperialisme dan
kolonialisme (sekali lagi: waktu itu) membuat nama Indonesia menjadi
terhormat di berbagai badan internasional. Beraneka-ragam gerakan atau
organisasi massa Indonesia yang terkemuka menjadi wakil presiden atau
anggota sekretariat dalam beraneka-ragam organisasi internasional di
berbagai bidang, antara lain Konferensi Pengarang Asia-Afrika di Colombo,
Konferensi Jurist Asia-Afrika di Conakry (Guinea), demikian juga dalam
badan-badan internasional lainnya seperti mahasiswa, serikat buruh, wanita,
sarjana, dll.
Dalam konteks situasi internasional waktu itu, ketika Perang Dingin antara
Blok Timur dan Blok Barat masih berkecamuk dengan hebatnya, Bung Karno
bersama-sama pemimpin-pemimpin Indonesia lainnya, telah menggariskan politik
luarnegeri yang bebas-aktif dan non-blok. Bung Karno adalah satu di antara
para negawaran besar lainnya (Tito dan Jawaharlal Nehru dll) yang menjadi
promotor gerakan non-blok. Dari segi ini pulalah bisa dilihat kebesaran
gagasan-gagasan Bung Karno dalam bidang internasional.
Di selenggarakannya Konferensi Internasional Anti Pangkalan Militer Asing
(KIAPMA) di Jakarta dalam bulan Oktober 1965 adalah manifestasi yang
gamblang politik bung Karno dalam melawan imperialisme dan kolonialisme
sambil mempertahankan prinsip-prinsip gerakan non-blok waktu itu.
(Patut dicatat di sini bahwa pidatonya di KIAPMA - di Hotel Indonesia -
inilah merupakan pidatonya yang terakhir di depan masyarakat internasional).
REVOLUSI YANG BELUM SELESAI
Peringatan 100 Tahun Bung Karno adalah kesempatan bagi bangsa kita untuk
mengenal, atau lebih mengenal lagi, atau mengenang kembali segala soal yang
berkaitan dengan Bung Karno. Dalam kesempatan ini perlulah diusahakan supaya
karya-karyanya bisa dikenal, dan dikaji oleh sebanyak mungkin orang. Dengan
membaca karya-karyanya, kita akan lebih mengerti apakah sebenarnya tujuan
perjuangan Bung Karno. Setelah mengerti tujuan politik Bung Karno, dan
kemudian membandingkannya dengan situasi negeri dewasa ini, maka kita bisa
makin yakinlah bahwa gagasan-gagasan Bung Karno adalah agung sekali !!! Dan
juga lebih yakin lagi bahwa sistem politik Orde Baru/Golkar adalah salah,
karena bertentangan sama sekali dengan berbagai ajaran dan gagasan Bung
Karno.
Membaca kembali karya-karya Bung Karno akan menggugah kita semua bahwa
revolusi bangsa menuju masyarakat adil dan makmur - yang selalu
didengung-dengungkannya - memanglah betul-betul belum selesai dan bahwa
adalah tugas kita bersama untuk meneruskan revolusi ini. Yaitu, meneruskan
revolusi dalam situasi nasional yang sudah berobah dan juga situasi
internasional yang sudah mengalami berbagai transformasi, sehingga
memerlukan syarat-syarat atau cara dan bentuk baru, sesuai dengan kondisi
kongkrit sekarang ini.
Tiga puluh tahun yang lalu Bung Karno sudah meninggalkan bangsa dalam
keadaan yang menyedihkan, sebagai akibat tindakan para pendiri Orde Baru.
Sekarang ini, makin terasa bagi banyak orang, bahwa dengan hilangnya Bung
Karno sebagai kepala negara dan pimpinan nasional, maka bangsa kita telah
kehilangan pedoman perjuangan menuju masyarakat adil dan makmur, seperti
yang dicita-citakan oleh proklamasi 17 Agustus. Banyak orang makin melihat
bahwa Bung Karno adalah ORANG BESAR pada zamannya, dan yang juga akan tetap
terus besar dalam ingatan bangsa Indonesia, berkat perjuangannya dan juga
gagasan-gagasannya.
Hanya karena politik Orde Barulah maka kebesaran Bung Karno ini dikerdilkan
selama puluhan, atau bahkan dicoba untuk dihapus dari sejarah perjuangan
bangsa Indonesia. Tugas bersama kitalah, sekarang, untuk memberikan tempat
yang selayaknya, atau semestinya, kepada Bung Karno kita ini.
Paris, 2 April 2001
(Catatan : tulisan ini bebas untuk diteruskan kepada siapa saja.
Untuk hubungan E-mail : kontak@club-internet.fr).
* * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Back
Forward