|
Di bulan Januari, anak perempuan saya lahir. Sebelum Fatmawati
mengandung dia, Fatmawati pernah bermimpi diberikan seuntai kembang
sepatu merah oleh ayah saya.
Ini berati bahwa dia segera dikaruniai seorang putri. Kami memang
merindukan seorang anak putri.
Saya tak pernah melupakan bahwa pada tanggal 23 Januari, isteri saya
berada di tempat tidur dan tidak dibawa ke rumah bersalin, hospital.
Kamar disiapkan untuk melahirkan putriku. Namun tiba-tiba lampu padam,
gelap gulita, langit gelap sekali seolah ditelan awan gelap malam.
Segera turun hujan yang lebat sekali, menghantam langit-langit rumah,
air hujan masuk melalui atap-atap rumah yang bocor, deras sekali. Air
masuk menggenangi dalam rumah.
Dokter dan jururawat memindahkan Fatmawati ke kamar tidurnya. Dalam
kegelapan malam itu, cuma ada penerang dari sebatang lilin. Putri kami
lahir. Kami menamakannya Megawati. Mega berarti awan.
Sekarang saya memandangi putri saya sedang tertidur. Dia mengikuti jejak
kakanya (Guntur - red.) yang dalam usia satu tahun berada dalam
kehidupan yang bersuasana revolusi. Hidup dalam persembunyian dan
pelarian karena situasi heroik-revolusioner yang harus dihadapi.
Untaian kata-kata di atas dirangkai oleh Cindy Adams untuk melukiskan
saat-saat Soekarno, putra bangsa yang menjadi presiden pertama negeri
ini, mengenang kelahiran putrinya Diah Permata Megawati Setiawati
Soekarnoputri. Putri dambaan yang saat ini sedang diharap bisa menjadi
penerus cita-cita demokrasi untuk rakyatnya.
Ketika Megawati masih seorang bocah cilik, Soekarno terpaksa
meninggalkan Yogyakarta karena Belanda sudah memasuki bumi Ngayogyakarta
Hadiningrat. Megawati bersama ayahanda tercintanya harus hidup dalam
buaian revolusi kemerdekaan untuk bangsanya, berpindah, mengungsi ke
Madiun.
Madiun adalah suatu daerah pegunungan yang lebat dengan perkebunan kopi.
Daerah yang cukup jauh untuk membawa dua anak yang masih terlalu cilik
untuk memahami arti peristiwa revolusi, tetapi juga daerah yang cukup
aman dari kejaran pasukan Kompeni.
Tetapi juga Madiun cukup dekat untuk koordinasi dan aktivitas revolusi
kemerdekaan yang harus terus dikawal Soekarno, tak ada pilihan lain yang
lebih memungkinkan.
Itulah detik-detik Soekarno harus berangkat menggendong anaknya,
mengambil keputusan membopong kedua anak mereka yang sedang terbaring,
tidur pulas. Kemerdekaan bangsa, keutuhan daulat negeri di atas
segalanya. Guntur telah mengawali perjalanan bangsanya sejak usia dini,
pun Megawati melakoni pengembaraan heroiknya dalam keceriaan api
revolusi yang tak henti membara.
Sabtu, 23 Januari 1999, Megawati yang sekarang berusia 52 tahun,
bersuamikan Muhammad Taufiq Kiemas (Pimpinan Umum Demokrat) dan
mempunyai tiga anak - M Rizky Pratama, Muh. Prananda, dan Puan Maharani
yang telah memberinya seorang cucu perempuan bernama Diah Pikatan Orissa
Putri Hapsari (Pinka), memperingati hari lahirnya di kediaman Kebagusan,
Jakarta Selatan. Peringatan ulang tahun tersebut dihadiri keluarga,
kerabat serta rekan seperjuangan.
Merayakan satu rangkaian tali hidup, mencoba terus menyuburkan jatidiri
kemanusiaan yang melekat secara naluriah. Megawati kembali mengenang dan
berbagi rasa, bertukar cerita, dan merangkai cita yang mungkin sempat
tertunda bersama rekan dan relasi perjuangan, secita untuk orang banyak.
Tapak-tapak, langkah-langkah bersama yang belum berarti apa-apa karena
jalan masih panjang, revolusi kemanusiaan tidak pernah berhenti hanya
karena tekanan kezaliman.
Rakyat senantiasa menunggu sentuhan dan ajakan pemimpin yang mengayomi.
Acara sederhana dengan tumpengan untuk rekan seperjuangan, mengenang,
mengingat dan bersama memacu sikap, menajamkan visi ke masa yang lebih
baik.
Selamat Ulang Tahun. (Zae)
|